Kamis, 26 Februari 2015

Jogja dalam Secangkir Kopi Joss



Berbicara tentang Jogja memang tidak pernah ada habisnya. Segala sisi kehidupan yang ada di Jogja mulai dari yang gelap hingga yang terang menarik untuk diperbincangkan. Apalagi sambil jagongan menikmati secangkir kopi di angkringan yang ada di Jogja. Dalam balutan suasana malam kota Jogja yang begitu khas, sambil menikmati secangkir kopi obrolan pun mengalir begitu saja. Mulai dari yang obrolannya serius, guyonan, nyleneh, hingga bahkan obrolan yang ngalor-ngidul nggak jelas arahnya. Semuanya terjadi dalam jagongan atau obrolan bersama secangkir kopi khas Jogja itu. 

Ialah kopi “joss”, yang tidak asing lagi bagi sebagian kalangan kopi-ers atau pecinta kopi Indonesia. Kopi joss khas Jogja merupakan kopi yang pada saat penyajiannya masih panas kemudian dicelupkan arang membara di dalamnya. Saat dicelupkan arang yang panas membara tersebut akan mengeluarkan bunyi ngejos: Jawa. Sehingga terkenal dengan sebutan kopi Joss. Aroma kopi Joss ini begitu khas karena berpadu dengan aroma arang. Anda tidak perlu khawatir mengenai kebersihan arang yang digunakan, karena arangnya langsung diambil dari anglo sehingga terjamin kebersihannya. Konon kopi joss ini juga bisa menjadi antioksidan yang berguna sebagai penyerap racun dalam tubuh. Entahlah? 

Kopi joss dapat dijumpai di Kota Jogja biasanya pada malam hari. Bila Anda penasaran dan tertarik untuk mencobanya, Anda bisa berkunjung ke angkringan yang terletak di dekat stasiun Tugu, agak ke timur dan persis di utara rel kereta. Dari arah Malioboro atau Stasiun Tugu, Anda bisa berjalan ke utara hingga menemukan jalan (gang) kecil ke arah barat. Di sekitar jalan (gang) kecil itulah pada malam hari biasanya banyak pedagang angkringan yang menjajakan kopi joss khas Jogja. 

Salah satu angkringan yang menjajakan kopi Joss yaitu Angkringan Lik Man. Angkringan Lik Man ini cukup legendaris dan terkenal. Konon pedagangnya merupakan generasi awal pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an. Di sana para pengunjung bisa menikmati suasana khas malam di Jogja sambil nyruput mantapnya kopi joss. Tempat duduknya pun Anda bisa memilih sendiri, mau lesehan di tikar yang sudah disediakan atau duduk di dekat bakul. Terserah selera para pengunjung, yang jelas wajib menjaga budaya angkringan. Yaitu toleransi (tepo sliro), kemauan untuk berbagi dan menjaga perasaan orang lain (biso rumongso). 

Para pengunjung yang biasanya menyempatkan diri datang untuk menikmati kopi Joss di angkringan sederhana itu berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari para seniman, wartawan, mahasiswa, masyarakat umum, beberapa tokoh artis, hingga bahkan pejabat. Soal harga kopi khas Jogja ini Anda tak perlu khawatir, karena harganya sangat merakyat. Menikmati kopi Joss khas Jogja rasanya kurang lengkap tanpa mencicipi aneka panganan unik yang ada di angkringan. Seperti sego kucing dengan lauk oseng tempe atau sambal teri, jadah bakar, mendoan (tempe goreng tepung), tempe bacem, tahu susur, dan aneka gorengan lainnya. 

Anda penasaran dan ingin mencobanya? Datang saja langsung ke Jogja dan manjakan lidah Anda dengan mencicipi mantapnya kopi joss sambil mendengarkan nyanyian serta alunan musik khas para seniman jalanan kota Jogja. Pastikan menjadi pengalaman dan kenangan yang tak kan terlupakan. Selamat menikmati Kota Jogja dalam secangkir kopi joss.

Tak Sempurna Tapi Bermakna


Puisi untuk para sahabat "Anak Berkebutuhan Khusus" 
oleh : Cipta Wardaya 




Mereka terasing diantara keramaian
Mereka tertindas di alam kemerdekaan
Mereka terpasung di lembah kebebasan 
Dan mereka tercabik dalam kefakiran 


“Dan siapakah mereka itu kawan?” 
Mereka saudara kita! 
Namun mereka memiliki keterbatasan
Orang menyebutnya kecacatan 
 Bahkan ada yang tega mengatakan itu kutukan 
Entahlah! 


Mereka sama seperti kita 
Butuh makan saat lapar 
Butuh minum saat dahaga 
Butuh oksigen untuk bernafas 
Karena sejatinya kita memang bersaudara! 


Yang terkadang terlupa oleh kita adalah 
Mereka butuh dihargai 
Mereka ingin diakui eksistensinya 
 Sebagai manusia yang layak dan setara 


Coba renungkan kawan! 
Siapakah diantara kita yang mau terlahir cacat? 
Terhina dan terasingkan dari kehidupan manusia yang sok sempurna 
Padahal bukankah sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan? 
Kita pun sok jadi hakim yang bisa memutuskan dan menghakimi mereka 
Dengan kata diskriminasi 


Padahal diskriminasi adalah sebuah kata-kata terkutuk 
Ia bagai racun ular paling berbisa di dunia 
Diskriminasi adalah penindasan di alam kemerdekaan 
Yang lebih kejam dari kemiskinan 


Yang mereka butuhkan adalah kesetaraan 
Bukan ejekan ataupun cemoohan 
 Mereka butuh pemberdayaan 
Bukan belas kasihan ataupun ibaan 


Don't Judge a book by cover

Sabtu, 05 Oktober 2013

Sudahkah Kita Mensyukuri Kekayaan Dari-Nya?

Banyak orang di dunia ini yang ingin cepat jadi orang kaya, hingga bahkan tidak sedikit yang berani menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Kekayaan seseorang (dalam konteks materi) selama ini memang masih dianggap sebagai salah satu penentu “kasta” atau prestis seseorang di lingkungan masyarakatnya. Diakui atau tidak, orang kaya pada umumnya akan lebih disegani atau dihargai ketimbang orang yang kurang mampu (secara materi), walaupun tidak selamanya demikian. Bahkan terkadang ada orang kaya yang sikap dan perilakunya (maaf) kurang terpuji namun justru disanjung serta dipuja-puja di masyarakatnya. 

Tidak heran bila di muka bumi ini banyak orang ingin cepat jadi orang kaya. Sah-sah saja memang, toh tidak ada kok yang melarang. Asalkan dalam mencapainya dengan cara-cara yang benar, sportif dan tidak merugikan pihak lain. Masalahnya ambisi “ingin cepat jadi orang kaya” tersebut kerap kali membutakan mata hati seseorang. Akhirnya cara-cara instan yang cenderung negatif pun nekat digunakan. Mulai dari korupsi, penipuan, kecurangan, aksi culas, perampasan, aksi kejahatan, hingga bahkan klenik (perdukunan). Hasilnya kekayaan yang tidak membawa keberkahan. 

Padahal sebenarnya ambisi “ingin cepat jadi orang kaya” itu bagus sekali, apabila diniatkan untuk hal-hal yang positif. Seperti agar bisa naikin Haji orang tua, agar bisa diriin panti asuhan untuk anak yatim, agar bisa lebih banyak berderma, dan seterusnya. Tentunya ambisi tersebut mesti dibarengi kerja cerdas (profesional), pantang menyerah serta doa. Dengan begitu kekayaan yang diraih nantinya akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat kelak. Yang mesti kita sadari bersama, sesungguhnya kekayaan materi yang kita raih bukanlah karena kehebatan diri kita dalam berusaha atau kerja keras. Namun karena anugerah dari Tuhan Yang Maha Kaya. 

Nah ngomong-ngomong soal kaya, disadari atau tidak sebenarnya kita semua adalah orang kaya, bahkan kaya sejak lahir. Anda boleh percaya boleh tidak, namun ini fakta. Penasaran ingin membuktikan? Silahkan siapkan sebuah kalkulator lalu “On” kan. Setelah itu siapkan secarik kertas dan pulpen/pensil. Nah sekarang tuliskan panca indra yang Anda miliki pada secarik kertas tersebut. Lalu tuliskan organ-organ tubuh yang Anda miliki dari yang terkecil hingga yang terbesar serta sistem syaraf dan kinerjanya. Ambil kalkulator kemudian coba Anda taksir dan kalkulasikan berapa nilai dari semua itu seandainya dirupiahkan. Kalkulator Anda tidak mungkin mampu menghitung nominal nilai dari semua itu. Karena nilainya bukan lagi milyaran atau trilyunan, namun tidak ternilai harganya. Right? 

Nah itulah karunia Tuhan dalam diri kita setiap manusia sejak lahir yang merupakan kekayaan kita sesungguhnya. Termasuk di dalamnya ialah kecerdasan, insting/instuisi, semangat, daya imajinasi, dan seterusnya. Yap, sejatinya kita semua diciptakan oleh Tuhan sejak lahir sebagai orang kaya! Hanya saja karena terlalu fokus pada apa yang tidak/belum kita miliki, kerap kali kita meremehkan bahkan “melupakan” kekayaan sesungguhnya yang selama ini telah ada dalam diri kita masing-masing. Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk membayar sepeser pun nikmat dan karunia-Nya selama ini. 

Bersyukurlah kita masih bisa menikmati oksigen secara gratis saat tubuh sehat. Bahkan sehat pun adalah karunia Tuhan. Bersyukurlah kita masih bisa melihat indahnya dunia ini melalui sepasang mata yang merupakan pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Bersyukurlah kita ketika diuji dengan kemiskinan, karena sesungguhnya kekayaan itu sudah ada dalam diri kita masing-masing. Bersyukurlah! Maka hati Anda akan tenang!  Hehe

Rabu, 27 Februari 2013

Berhentilah Meremehkan, Dare Respect!

Hey sahabat muda sekalian. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit sharing tentang salah satu kebiasaan buruk sebagian kita di masa muda, yakni suka “meremehkan”. Yap, meremehkan dalam artian menyepelekan. Entah itu meremehkan nasihat orang tua, meremehkan waktu luang, meremehkan belajar, meremehkan teman, dan seterusnya. Intinya meremehkan hal yang dianggapnya kecil dan nampak biasa-biasa saja. 


Misalnya saja, (maaf) mungkin diantara kita dulu waktu sekolah suka ngeremehin uang saku atau apapun itu yang dikasih sama ortu. Kurang inilah, kurang itulah, kekecilan lah, jelek lah dan kata-kata meremehkan lainnya. Masih terkait kebiasaan meremehkan, diantara kita yang anak orang kaya mungkin pernah ngeremehin temannya yang kurang mampu. Kebiasaan lainnya ialah ngeremehin temannya yang berkebutuhan khusus. Dan masih banyak lagi contoh-contoh kebiasaan meremehkan yang terkadang disadari atau tidak kita lakukan tanpa merasa berdosa. 

*****

Untuk menjadi pribadi yang sukses di usia muda, kita mestinya membuang jauh-jauh kebiasaan suka meremehkan apapun itu. Entah kebiasaan meremehkan sesuatu yang nampak kecil atau sepele, ataupun meremehkan orang lain. Kebiasaan suka meremehkan sesuatu hanya akan menjadi penghambat kesuksesan kita. Perlu kita sadari bersama bahwa di dunia ini tidak ada yang remeh dan sepele. Maka mari biasakan sikap “respect”. Dengan sikap “respect” kita akan lebih mudah diterima di lingkungan manapun. Yang pada akhirnya membantu diri kita semakin sukses dan berkembang.

Bermimpilah, Lalu Berjuang Meraihnya !

Hay guys, sebentar lagi bulan Februari yang penuh cinta dan kasih sayang ini akan segera berakhir loh. Itu artinya bulan Maret sudah semakin dekat aja ya guys. Oh ya cuma mau ngingetin nih, 2013 hampir memasuki bulan ketiga. Yuk guys kita introspeksi sejenak sebelum memasuki bulan Maret yang semoga saja menjadi bulan penuh berkah bagi kita semua. Coba renungkan selama dua bulan lalu pengalaman berharga apa saja yang telah kita raih? Prestasi apa saja yang telah berhasil kita persembahkan untuk orang-orang tercinta? Hal-hal positive apa saja yang telah kita coba? Tempat-tempat berkesan mana saja yang berhasil kita kunjungi? Atau justru selama hampir tiga bulan di tahun 2013 ini diantara kita masih ada yang merasa hidup ini biasa-biasa aja, datar, monoton, tanpa ada sesuatu yang beda, bahkan membosankan?


Nah guys, itulah pentingnya kenapa kita mesti memiliki yang namanya MIMPI (dream). For your information, pada umumnya orang-orang hebat di dunia ini mengawali apa yang diraihnya itu dari sebuah mimpi loh. Bahkan tidak jarang mimpi mereka itu dianggap gila dan gak masuk akal oleh orang-orang. Namun mereka tidak pasrah gitu aja guys. Justru ledekan dan peremehan dari orang-orang di sekitarnya menjadi tantangan bagi mereka untuk membuktikan mimpinya itu. Contohnya saja om Thomas Alfa Edision *tepuk tangan* 

Dengan memiliki mimpi, arah hidup kita akan lebih jelas tentunya. Ada target-target, visi-misi, obsesi yang ingin kita raih. Dengan memiliki mimpi hidup kita akan menjadi lebih bermakna. Karena dalam proses meraih mimpi-mimpi kita itu ada nilai-nilai kehidupan yang bisa kita peroleh. Dengan memiliki mimpi hidup kita akan lebih berwarna. Terlebih lagi bila mimpi-mimpi kita itu sesuai dengan passion masing-masing. Bagi orang-orang yang hidupnya memiliki jutaan mimpi tentu tidak akan merasa yang namanya kehampaan, galau akut, putus asa, dst. 

Guys, ngomong-ngomong soal mimpi tentu gak seru kalo cuma tinggal mimpi doank kan? Nah, biar tambah seru and semangat ngeraihnya, kita mesti punya strategi. Misalkan saja menuliskan mimpi-mimpi kita itu di tempat-tempat yang mudah kita lihat setiap hari. Tiap orang tentu punya cara masing-masing. Jangan lupa tuliskan target waktu pencapaian mimpi-mimpi tersebut beserta konsekuensi bila belum bisa mencapainya. Ayo guys, warnai hidupmu di tahun 2013 ini dengan mimpi-mimpi indah. Buatlah agar mimpi-mimpimu itu juga memiliki IMPACT positive bagi lingkungan sekitar. Lalu, berjuanglah meraihnya !

Rabu, 20 Februari 2013

Nilai Kearifan dalam “Filosofi Jamu”

Hai sahabat YOTers sekalian, coba kalian bayangkan seandainya di hadapan kalian dihidangkan dua gelas minuman dengan isi yang berbeda. Gelas pertama berisi sirup berwarna merah segar dengan bau yang begitu harum menggoda. Gelas kedua berisi jamu tradisional yang warnanya hitam pekat dengan bau menyengat. Bila disuruh memilih kira-kira sahabat sekalian mau pilih gelas yang mana? Pilih gelas yang berisi sirup atau gelas yang berisi jamu ya? Hehehe… :)


Kalau boleh saya tebak kebanyakan diantara sahabat sekalian pasti akan lebih memilih gelas pertama yang berisi sirup dengan warna merah segar dan baunya yang harum menggoda itu. Sirup jelas rasanya manis dan disukai oleh banyak orang. Walau pada umumnya mengandung pewarna dan bahan pengawet buatan yang bisa berbahaya bagi tubuh kita. Sementara gelas kedua kemungkinan akan sedikit sekali yang memilihnya. Karena gelas kedua berisi jamu tradisional yang warnanya hitam pekat dan baunya pun menyengat. Tidak heran bila sangat jarang orang yang suka minum jamu tradisional. 



*****

Ngomong-ngomong soal jamu, saya waktu kecil punya kisah menarik yang masih terkait dengan jamu. Dulu setiap kali malas makan, oleh nenek saya selalu dipaksa minum jamu tradisional penambah nafsu makan. Awalnya saya bersikeras tidak mau meminumnya karena merasa takut dengan pahitnya rasa jamu itu. Namun tiap kali saya malas makan nenek tidak pernah hentinya memaksa saya minum jamu. Waktu itu saya pikir minum jamu adalah pengalaman paling absurd dalam hidup saya. “Kenapa saya mesti minum jamu yang jelas-jelas pahit rasanya?”, batin saya kala itu. Eh ternyata tiap kali minum jamu nafsu makan saya benar-benar meningkat dan badan saya pun terasa lebih segar. Saya pun mendapatkan hikmah pelajaran dari kisah ini. Yang nampak buruk dan menakutkan ternyata tidak selamanya berbahaya, justru boleh jadi memiliki banyak manfaat seperti halnya jamu. :)

*******

Kembali lagi pada diri kita masing-masing, semua itu tergantung perasaan dan prasangka kita terhadap sesuatu. Maka selalu berpikirlah positive dan buanglah segala prasangka negative dalam diri kita! Walau banyak orang yang membenci karena rasanya yang pahit, namun jamu justru memiliki banyak khasiat bagi tubuh kita. Jamu juga bisa diibaratkan sebagai masalah atau tantangan yang menghadang kehidupan kita. Yang namanya masalah atau tantangan pastilah tidak mengenakan, dimana kita berada di zona tidak nyaman. Namun belajar dari filosofi jamu, kita sebaiknya memandang setiap masalah atau tantangan yang menghadang sebagai jamu atau “multivitamin” bagi jiwa kita. Yang kelak akan membuat diri kita semakin baik dan matang dalam menapaki tangga kesuksesan. Nah sahabat YOTers sekalian, sekarang ayo siapa yang berani minum jamu? Hehehe… :) 

Pernah ditulis di www.youngontop.com

Jumat, 01 Februari 2013

Dimana...? Dimana...? Dimana...Kota Ramah Anak ?

Pada setiap tanggal 23 Juli selalu diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Tentu menjadi hari yang mestinya terasa istimewa bagi seluruh anak Indonesia. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Belum semua anak Indonesia bisa merasakan kemeriahan peringatan Hari Anak Nasional tersebut. Masih banyak anak Indonesia yang dieksploitasi dan menjadi korban kekerasan. Mulai dari eksploitasi tenaga, pikiran, hingga bahkan kekerasan secara seksual. 

Sungguh ironis dan sangat disayangkan sekali. Masyarakat dewasa yang semestinya melindungi dan menyayangi anak-anak, justru seringkali melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka. Meruntut berbagai kasus yang terjadi selama ini, kekerasan terhadap anak justru cenderung dilakukan oleh orang dekatnya. Seperti orang tua, ayah atau ibu tiri, kerabat, dan bahkan terkadang oleh gurunya di sekolah. Ini menunjukkan betapa masih rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat atas hak-hak yang dimiliki seorang anak. 

Pada umumnya masyarakat belum memahami hak-hak setiap anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak. Misalnya saja hak menyampaikan aspirasi, hak mendapatkan pendidikan yang layak, dan sebagainya. Di berbagai daerah termasuk DIY menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan hak-hak anak. Ini mengindikasikan belum optimalnya implementasi Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI No. 02 Tahun 2009 tentang kebijakan Kota Ramah Anak. Melalui kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak dalam proses pembangunan di tingkat kabupaten atau kota. 

Pada kenyataannya implementasi kebijakan Kota Ramah Anak masih jauh dari yang diharapkan. Buktinya proses pembangunan di beberapa kota masih terfokus pada bidang ekonomi, politik dan infrastruktur. Dalam pengambilan keputusan belum mempertimbangkan apa yang terbaik bagi anak. Suara dan aspirasi anak sering disepelekan dan bahkan seperti “dibungkam”. Untuk itu Pemerintah melalui Undang-Undang yang ada harus mampu bersikap tegas dalam melindungi hak-hak pada setiap anak. Selain itu perlu adanya komitmen dan kesadaran seluruh komponen bangsa ini untuk terus melindungi dan menyayangi anak-anak Indonesia. Saatnya stop kekerasan dan eksploitasi terhadap anak! Mari bersama wujudkan Kota Ramah Anak!

Mana Semangat Nasionalisme-mu Guys? Ayo Kobarkan Kembali !

Diakui atau tidak saat ini semangat nasionalisme bangsa Indonesia semakin larut tergerus oleh arus globalisasi dan badai masalah yang tak kunjung usai. Semangat nasionalisme yang dulu pernah berkobar di dalam jiwa bangsa Indonesia ketika melawan penjajah, nampaknya semakin terkubur dalam bersama jasad para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Kini tinggal puing-puing sejarahnya saja yang tersisa. 

Nasionalisme yang ada pada bangsa Indonesia saat ini sepertinya baru sekedar teori yang diajarkan di sekolah ataupun kampus semata. Bahkan tidak jarang menjadi komoditas pencitraan partai-partai politik tertentu. Harus dengan legowo kita akui bersama bahwa rasa nasionalisme yang ada pada bangsa ini kini semakin pudar. Terkadang rasa nasionalisme itu muncul kembali tiba-tiba dengan “latah”. Namun sejatinya rasa nasionalisme itu belum benar-benar mendarah daging dan menyatu dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. 

Perlu kita sadari bersama, semangat nasionalisme merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki bangsa ini dalam menghadapi berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri. Tanpa adanya semangat nasionalisme dalam setiap jiwa bangsa Indonesia, maka akan dengan mudah bangsa lain mengobrak-abrik bahkan menjajah kembali Indonesia. Tanpa adanya semangat nasionalisme, maka akan timbul berbagai perpecahan yang bisa memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Tentu saja ini semua tidak kita inginkan terjadi, walaupun sebenarnya kini sudah mulai muncul tanda-tanda akan hal itu. 

Solusi bijak untuk keluar dari semua ini adalah kita bangsa Indonesia harus bangkit kembali dengan semangat nasionalisme yang lebih besar lagi, tentu semangat nasionalisme sejati. Semangat nasionalisme yang tulus ikhlas dari dalam hati. Jangan pusingkan dulu soal maraknya korupsi, masalah moral bangsa, masalah kemiskinan, masalah pengangguran, ataupun pendidikan yang tak kunjung usai. Tidak usah iri dengan negara Jepang atau Singapura yang lebih maju dari negara kita. Jangan minder dulu dengan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang masih ketinggalan dari negara-negara lain. 

Marilah kita buka mata hati bangsa ini, ada yang jauh lebih penting dari semua itu. Lihatlah betapa indah dan menakjubkan hamparan alam Indonesia. Lihatlah harmonisasi kehidupan dalam masyarakat kita yang multikultural. Negara lain belum tentu mempunyai apa yang bangsa Indonesia miliki selama ini, walaupun diakui mungkin jauh lebih modern dari negara kita. Perlu kita sadari bersama, Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke dengan beragam suku, agama, ras, budaya dan segala keragamannya. Namun dengan semangat Bhineka Tunggal Ika bangsa ini tetap bisa berdiri kokoh hingga sekarang ini. Walaupun berbeda-beda kita tetaplah satu Indonesia. Kita harus bangkit buktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang unggul, mandiri dan berkarakter. 

Mari jadikan ini semua sebagai motivasi bangsa Indonesia untuk kembali kobarkan semangat nasionalisme dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Jangan fikirkan apa yang negara berikan untuk kita, namun renungkan karya atau prestasi apa yang telah kita persembahkan untuk Indonesia tercinta. Dengan semangat nasionalisme mari menyongsong kebangkitan NKRI yang berdaulat, maju, mandiri, dan berkarakter.

Jumat, 19 Oktober 2012

Waspadai, Etnosentrisme dan Fanatisme Kedaerahan Ancaman bagi NKRI !

Di lingkungan perkampungan atau pedesaan saya kerapkali menyaksikan kehidupan masyarakat yang masih begitu kedaerahan. Saya amati dari interaksi sosial antar anggota masyarakatnya memang nampak kompak, seperti halnya adanya kegiatan gotong royong, pengajian rutin, arisan, dan lainnya. Namun yang amat sangat disayangkan adalah sikap fanatik terhadap kelompok (kedaerahan) yang terasa masih begitu kental dalam kehidupan masyarakat tersebut. Sebagai contoh, sikap atau keyakinan warga masyarakat yang menganggap bahwa kelompok/masyarakatnya lebih baik dari kelompok/masyarakat dari luar kampung/desa/daerah-nya. Bahkan terkadang ada beberapa kelompok masyarakat yang menganggap bahwa kelompoknya-lah yang terbaik. Bila ada kelompok masyarakat lain yang nampak mengungguli maka mereka akan berontak, karena tidak mau tersaingi. 

Ini membuktikan bahwa di dalam kehidupan masyarakat kita yang demokratis ini ternyata masih saja banyak warga masyarakat ataupun kelompok yang cenderung bersikap etnosentrisme secara berlebih-lebihan. Terlebih lagi dengan adanya otonomi daerah, yang salah satu dampaknya kian membuat masyarakat bersikap fanatik terhadap daerahnya masing-masing. Etnosentrisme sendiri menurut Matsumoto (1996) adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Ada lagi pendapat yang menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya. 

Sebagai contoh, (maaf) misalkan ada orang dari luar Jogja yang kebetulan bertamu di daerah Jogja, lalu ia makan sambil ngomong dan berdiri atau jalan mondar-mandir. Orang Jogja yang cenderung bersikap etnosentrisme berlebih-lebihan mungkin akan langsung menghujat tamu dari luar daerah tadi yang dirasa berseberangan terhadap budaya masyarakat Jogja. Namun bagi masyarakat yang memiliki sikap etnosentrisme yang fleksibel, tentu akan dengan mudah memahami perbedaan budaya pada individu/kelompok/daerah lain. 

Sikap etnosentrisme memang tidak salah, selama pas porsinya, tidak membabi-buta dan tidak berlebih-lebihan. Sikap etnosentrisme justru amat diperlukan untuk menjaga kebutuhan dan kestabilan budaya, mempertinggi semangat patriotisme dan kesetiaan kepada bangsa, serta memperteguh rasa cinta terhadap kebudayaan suatu bangsa. Namun tentu konteksnya kebangsaan, bukan fanatisme kedaerahaan apalagi kelompok. Nah dalam hal ini apabila etnosentrisme infleksibel dan fanatisme kedaerahan terus dibiarkan, tentu akan sangat mengganggu proses integrasi sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contohnya saja, terjadinya tawuran antar kampung gara-gara masalah pribadi, tawuran antar kampus, konflik antar kelompok agama, dan seterusnya. Tentu kita semua sepakat, tidak ingin konflik-konflik semacam itu terus terjadi hanya gara-gara etnosentrisme yang sempit dan fanatisme kedaerahan bukan? 

Saya akan mencoba memberi alternative pemikiran dari Daft (1999), tentang etnorelativisme. Yaitu kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama. Dalam etnorelativisme, setiap etnik dinilai memiliki kedudukan yang sama penting dan sama berharganya. Pemikiran Daft tentang etnorelativisme ini mestinya mampu menyadarkan kita semua, bahwa jangan ada lagi fanatisme kedaerahan ataupun etnosentrisme yang sempit dan berlebih-lebihan. Walau sebenarnya pemikiran itu juga sudah terkandung secara umum dalam ideologi negara kita, Pancasila. 

Kini bukan lagi saatnya menonjolkan ke-aku-an, ke-suku-an, ataupun ke-kami-an (eksklusif). Bukan pula waktunya mengungul-unggulkan kesukuannya/kelompoknya/daerahnya sendiri. Katakan dengan lantang “KITA ini bangsa INDONESIA. KITA siap bersatu-padu, berbakti dan mengabdi untuk kemajuan dan kejayaan NKRI. Tanpa menonjolkan individu, kelompok ataupun kedaerahan. KITA semua sama setara, tidak ada yang lebih rendah ataupun remeh! KITA siap mengawal NKRI dengan segenap jiwa raga KITA, bangsa Indonesia !”

Pernah diposting di : http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo

Strategi Jitu Atasi Tawuran Antar Pelajar

Tawuran antar pelajar yang marak terjadi pada akhir-akhir ini adalah sebuah catatan hitam bagi dunia pendidikan Indonesia. Ini tentu tidak bisa lagi kita anggap “sepele” sebagai kenakalan remaja belaka. Terlebih bila kita mempertimbangkan aksi tawuran tersebut yang telah memakan korban tewas. Ironis sekali memang! Tidak heran bila banyak pihak yang menyayangkan dan prihatin atas aksi yang sangat tidak terpuji tersebut. Mengapa seakan ada preman-preman kecil di sekolah? Bukankah sekolah itu tempat untuk belajar dan memperbanyak persahabatan? Mengapa justru mereka gunakan untuk unjuk kekuatan dan menebarkan permusuhan? 

Bila kita cermati ternya penyebab dari aksi tawuran antar pelajar itu hanyalah masalah-masalah yang amat sangat sepele. Seperti halnya karena kesalahpahaman. Namun karena adanya provokasi-provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, biasanya kesalahpahaman itu akan berujung pada aksi tawuran. Nah demi mempertahankan harga diri masing-masing kelompok/geng pelajar, akhirnya aksi yang sangat tidak terpuji itu kerap kali dipertontonkan seakan tanpa dosa. Hingga bahkan tega membunuh kawan sebayanya sendiri yang dianggapnya musuh. Tidakkah mereka sadar kalau sama-sama masih pakai seragam sekolah, sama-sama masih ingusan saat flu, sama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu kenapa mesti berlagak sok-sokan segala? Apakah kalian merasa sudah begitu hebat?

Mengamati maraknya aksi tawuran antar pelajar pada akhir-akhir ini, tidak bisa sepenuhnya kita menyalahkan para siswa/pelajar yang terlibat. Secara hukum maupun norma yang berlaku di masyarakat jelas aksi mereka itu salah dan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Namun secara pendidikan dan pengajaran, bisa jadi mereka itu adalah korban dari keadaan/lingkungan sosial yang tidak kondusif. Keadaan/lingkungan sosial yang tidak kondusif tersebut tentu akan berpengaruh besar terhadap perkembangan mental/psikologi para siswa. Kondisi inilah yang biasanya akan memicu munculnya sekolah-sekolah yang rawan bermasalah. Biasanya sekolah-sekolah tersebut berlokasi dekat dengan terminal, pasar, pesisir pantai, dan seterusnya. 

Nah maka dari itu bagi sekolah-sekolah yang siswanya rawan bermasalah atau rawan terjadi kerusuhan tersebut mestinya berani menerapkan strategi-strategi khusus dalam membina karakter para siswanya. Menurut penulis ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pihak sekolah yang memiliki anak didik rawan bermasalah antara lain sebagai berikut: 

*Memperbanyak kegiatan ekstrakurikuler yang unik dan menarik 
*Melaksanakan kegiatan outbond pembinaan karakter secara intensif 
*Mengadobsi program boarding school 
*Pembinaan karakter melalui even seni-budaya 
*Pelatihan keterampilan ataupun entrepreneurship, dan seterusnya. 

Pada intinya adalah bagaimana pihak sekolah mampu mengemas semua itu secara menarik, menyenangkan, dan fleksibel namun tetap inspiratif dan mendidik. Dengan strategi-strategi tersebut di atas diharapkan tidak ada lagi siswa-siswa atau pelajar yang tongkrongan/bergerombol tidak jelas sepulang sekolah. Melalui strategi-strategi ini diharapkan dapat menyalurkan energi berlebih para pelajar “generasi labil” kepada kegiatan-kegiatan yang lebih terarah, produktif dan positif tentunya.

Pernah diposting di : http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo 

Ojo Kemaki (Jangan Belagu)! Bersahajalah!

Mungkin diantara Anda sekalian masih agak asing, bahkan tergelitik ketika mendengar dua kata nyleneh ini. “Ojo Kemaki!” Bahkan diantara Anda mungkin akan bertanya-tanya apa sih “ojo kemaki” itu? Sejenis makanan kah? Apa yang istimewa dari dua kata sederhana ini? Nah untuk menjawab rasa penasaran Anda sekalian terkait ada apa dengan kata “ojo kemaki” saya akan mencoba menjabarkannya secara sederhana.

Kata-kata “ojo kemaki” memang bukanlah kosa kata Bahasa Indonesia. Kata-kata ini merupakan semacam sesanti dalam Bahasa Jawa. Mungkin masyarakat Jawa hampir sering mendengar kata-kata tersebut. Karena memang kata-kata “ojo kemaki” kerap kali digunakan oleh para orang tua Jawa untuk menasehati atau mengingatkan putra-putri-nya. Terkadang juga digunakan untuk menasehati atau mengingatkan orang yang suka sok-sokan. 

Saya sendiri selalu berusaha mengamalkan sesanti “ojo kemaki” yang saya dapatkan dari pendidikan di dalam keluarga. Sepintas kata-kata ini memang sederhana, namun kalau dihayati kita akan menemukan makna yang begitu bijak di dalamnya. Sesanti “ojo kemaki” dapat dimaknai jangan belagu, jangan sombong, jangan angkuh. Kalau orang Jawa sering mengatakan “ojo mbagusi, ojo sok-sokan, ojo gemedhe, ojo gegedhen sirah”. Jadi “ojo kemaki” mengandung makna agar kita sebagai manusia sebaiknya janganlah angkuh/sombong, tidak perlu belagu. Ingat, bahwa sehebat-hebatnya kita pasti masih ada banyak orang di luar sana yang jauh lebih hebat. Dan sejaya-jayanya kita, pastilah tetap memiliki kelemahan atau kekurangan.

Saya kerap kali mengamati kehidupan masyarakat yang kurang harmonis ternyata salah satu faktor penyebabnya juga karena masih banyaknya orang-orang yang “kemaki” alias belagu/sok-sokan. Contoh sederhananya saja, maraknya tawuran antarpelajar diantaranya juga karena sejak kecil mereka sudah terbiasa belagu/sok-sokan. Sehingga masing-masing individu pelajar merasa yang paling hebat dan kuat, maunya selalu menang, sedikit-sedikit marah/tersinggung, harga diri dianggap sebagai segalanya. Nah hal ini nantinya akan terus terbawa ketika mereka telah dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. 

Akibatnya masyarakatnya pun akan menjadi “sakit”. Kenapa masyarakatnya bisa dibilang “sakit”? Karena banyak generasi-generasi yang “kemaki” alias besar kepala. Ironisnya lagi, diantara generasi-generasi “kemaki” itu pula yang beberapa diantaranya akan diamanahi sebagai pemimpin, sebagai agen perubahan bangsa, dan sebagainya. Nah apa yang Anda bayangkan sekarang? Korupsi, kolusi dan nepotisme meraja lela. Kekerasan, tawuran, premanisme, terorisme, radikalisme, dan aksi anarkisme menjamur dimana-mana. Saling hasut, saling sikut, saling fitnah pun dianggap biasa. Apakah ini Indonesia yang kita harapkan bersama? 

Katakan TIDAK bila Anda memang masih menginginkan Indonesia yang lebih beradab, Indonesia yang berjaya, Indonesia yang aman, tentram dan damai. Untuk mewujudkan semua itu kita bersama mesti menjauhi yang namanya perilaku “kemaki” alias besar kepala, sombong, angkuh, belagu, sok-sokan dan sejenisnya. Mari kita mulai dari diri sendiri, lalu ajak orang-orang terdekat kita terutama keluarga, biarkan orang lain terinspirasi dan mencontoh perilaku kita tersebut dengan kesadaran mereka sendiri. Budaya hidup penuh kesahajaan, tanpa menonjolkan kehebatan diri secara berlebih-lebihan nampaknya mesti kita bangun bersama.

Pernah diposting di : http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo

Kau Pikir Ibu Pertiwi Akan Bilang WOW gitu?

gambar from google.com


Demi ibu pertiwi yang tengah bersedih hati 
Katakanlah wahai sahabat 
Katakanlah sepenggal cinta yang tulus 
Dari lubuk jiwa mu yang kosong 

Lihatlah sahabat! 
Lihatlah dengan nurani mu yang terdalam 
Kau biarkan ibu pertiwi terluka hati 
Menangis akan kelakuan jahanam mu 

Ingat-ingatlah anak manis 
Dengan mudahnya kekerasan kau lakukan 
Bahkan hanya karena hal yang amat sangat sepele 
Dengan teganya kau tebar permusuhan 
Demi ego dan arogansimu 

Kau pikir ibu pertiwi akan bilang WOW gitu? 
Tidak sahabat! 
Kenakalanmu itu telah melampaui batas 
Biarkan ibu pertiwi menjewer kuping manismu 
Agar kau tersadar 

Sahabat bukalah akal pikiran juga nurani mu 
Jangan kau pikir ibu pertiwi akan bangga dengan kekuatan otot mu 
Jangan kau pikir ibu pertiwi akan bangga dengan kelakuan sok-sokan yang kau pertontonkan 
Jangan kau pikir ibu pertiwi akan bangga dengan keberanian mu yang brutal itu 

Sudahilah segala permusuhan 
Karena sungguh tidak ada gunanya 
Jadilah anak manis bagi ibu pertiwi 
Berjanjilah…berbaktilah…mengabdilah kepadanya 
Dengan seutuh jiwa raga mu 

Ruang Kata 29-09-2012 

Jumat, 10 Agustus 2012

Wujudkan Cita-Cita Bangsa! (Renungan HUT RI Ke-67)

17 Agustus 2012 ini akan genap sudah 67 tahun Indonesia merdeka. Namun waktu yang demikian lama itu ternyata belum mampu mendewasakan bangsa ini. Terlalu banyak energy bangsa ini yang terbuang sia-sia hanya untuk saling menyalahkan, saling bermusuhan, saling fitnah, saling menjatuhkan dan sebagainya. 

Terkadang begitu mudahnya bangsa ini diadu domba oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab. Hingga terjadilah perang antar saudara sebangsa yang kerap tidak kita sadari. Sudah cukup banyak nyawa yang melayang sia-sia akibat pertikaian antar kelompok/etnis. Sungguh ironis dan memalukan sekali. 

Semestinya melalui peringatan HUT kemerdekaan ini mampu mengingatkan kita semua akan cita-cita para the founding fathers yang hingga kini belum tercapai sepenuhnya. Cita-cita the founding fathers tersebut dengan jelas tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Yang antara lain yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta turut menciptakan perdamaian dunia. 

Cita-cita the founding fathers tersebut kini menjadi cita-cita luhur bangsa Indonesia. Yang berarti merupakan tujuan nasional didirikannya negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk mewujudkannya memang tidak mudah. Terlebih akhir-akhir ini banyak ancaman yang terus menghantui bangsa Indonesia. Mulai dari terorisme, korupsi, radikalisme, kriminalitas, dan sebagainya. 

Namun kita semua harus tetap optimis, jangan sampai gentar dengan ancaman-ancaman itu. Apapun yang terjadi harus kita hadapi bersama . Dengan modal sosial yang bangsa ini miliki mari satukan tekad, bersama wujudkan cita-cita bangsa yang juga merupakan amanah dari the founding fathers kita. 

Seperti pesan Bung Karno, bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas. Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Namun merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa sebagai tujuan luhur kita bersama. Salam merdeka untuk kita semua. Sekali merdeka tetap merdeka!

"Mereka Istimewa" (Puisi untuk Sahabat ABK)


Mereka terasing diantara keramaian 
Mereka tertindas di alam kemerdekaan 
Mereka terpasung di lembah kebebasan 
Dan mereka tercabik dalam kefakiran 

“Dan siapakah mereka itu kawan?” 
Mereka saudara kita! 
Namun mereka memiliki keterbatasan 
Orang menyebutnya kecacatan 
Bahkan ada yang tega mengatakan itu kutukan 
Entahlah! 

Mereka sama seperti kita 
Butuh makan saat lapar 
Butuh minum saat dahaga 
Butuh oksigen untuk bernafas 
Karena sejatinya kita memang bersaudara! 

Yang terkadang terlupa oleh kita adalah 
Mereka butuh dihargai 
Mereka ingin diakui eksistensinya 
Sebagai manusia yang layak dan setara 

Coba renungkan kawan! 
Siapakah diantara kita yang mau terlahir cacat? 
Terhina dan terasingkan dari kehidupan manusia yang sok sempurna 
Padahal bukankah sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan? 
Kita pun sok jadi hakim yang bisa memutuskan dan menghakimi mereka 
Dengan kata diskriminasi 

Padahal diskriminasi adalah sebuah kata-kata terkutuk 
Ia bagai racun ular paling berbisa di dunia 
Diskriminasi adalah penindasan di alam kemerdekaan 
 Yang lebih kejam dari kemiskinan 

Yang mereka butuhkan adalah kesetaraan 
Bukan ejekan ataupun cemoohan 
Mereka butuh pemberdayaan 
Bukan belas kasihan ataupun ibaan


Don't Judge a book by cover

Maha Cinta, Menebar Kasih, Raih Kebahagiaan !

Wahai sahabat dan saudara pembaca sekalian, benarkah diantara kita sering menganggap remeh suatu ciptaan Tuhan YME yang ada di muka bumi ini? Contohnya saja menghina orang cacat atau mungkin juga sering menganggap “enteng” orang lain dan merasa dirinyalah yang paling hebat. Atau mungkin malah kita sendiri sering merasa minder diri tak berarti dan tak berguna. 

Jika kenyataannya demikian, maka segeralah kita merenung dan bertaubat kepada-Nya :) Coba kita resapi bersama kata-kata berikut: “Seandainya Sang Pemberi Kehidupan mencabut waktu kehidupan kita dan bertanya kepada kita, apakah kita sudah berani berdiri tegak dihadapan-Nya dengan mengatakan prestasi terbaik dan manfaat yang telah kita lakukan dengan menggunakan segala anugerah dari-Nya?”. “Apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan semuanya?” :)

Sadar atau tidak sesungguhnya hidup kita ini penuh dengan anugerah dan karunia-Nya. Sahabat dan saudara sekalian, tanpa diminta Tuhan telah memberikan karunia kepada kita semua berbagai anugerah yang teramat istimewa dalam kehidupan ini. Pernahkah sejenak kita berfikir, betapa berharganya berbagai anugerah istimewa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita semua. 

Segala anugerah dan karunia Tuhan kepada kita para hamba-Nya takkan ternilai harganya. Semua itu takkan bisa diukur dengan harta benda maupun nilai mata uang manapun. Sebab anugerah yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita semua sangat besar dan tak terbatas. Karena Dia-lah Zat Yang Maha Cinta. 

Mari sejenak kita refleksi diri dan merenungi atas kebesaran-Nya itu. Dia-lah Tuhan Yang Maha Cinta yang telah mengkaruniakan kepada kita semua berbagai anugerah yang tak ternilai harganya. Mulai dari fisik yang berfungsi dengan sempurna, otak yang kecerdasannya luar biasa, juga hati untuk merasa. Dia-lah Tuhan Zat Yang Maha Kasih, yang telah mengkaruniakan kepada kita semua mata untuk melihat, mulut untuk bicara, telinga untuk mendengar, kaki untuk berjalan dan menopang tubuh, serta anugerah istimewa lainnya. 

Bahkan untuk sekedar bernafas setiap detik hidup kita selalu menghirup oksigen yang Tuhan berikan secara cuma-cuma. Apa kita pernah ditagih oleh Tuhan untuk membayar semua itu? Tidak mungkin dan tidak akan pernah. Karena sesungguhnya Dia-lah zat Yang Maha Kaya dan zat Yang Yang Maha Pengasih. Sungguh amatlah tak terhingga segala anugerah dan karunia-Nya terhadap kita hamba-hamba-Nya. Nah dalam hal ini sudahkah kita bersyukur kepada-Nya? Atau minimal sudahkah kita menghargai berbagai karunia-Nya yang luar biasa itu? 

Tentu semua ini kembali lagi kepada pribadi masing-masing, hanya Anda sendiri yang mampu menemukan jawabannya. Karena sesungguhnya jawaban itu ada di dalam hati Anda masing-masing. Yang terpenting saat ini kita harus selalu ingat dan sadari bahwa hidup ini merupakan karunia Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Tuhan memberikan segala anugerah dan karunia-Nya yang amat istimewa kepada kita sekalian tentu tidak sembarangan. Pasti ada rahasia dan tujuan dibalik semua itu. Yang pasti kita harus mampu menggunakan segala anugerah dan karunia-Nya itu untuk tujuan yang mulia. 

Maka dari itu jangan pernah menyerah atas segala keadaan yang ada pada diri kita. Syukuri saja apa adanya, baik itu kekurangan maupun kelebihan yang ada pada diri kita. Ingatlah bahwa tidak ada yang sia-sia atas segala ciptaan-Nya. Selalu ada hikmah dan rahasia dibalik segala ciptaan-Nya itu. 

Dan jangan pula kita remehkan orang lain, apapun latar belakangnya dan siapapun itu. Bagaimanapun kondisinya harus tetap kita hargai, karena itu semua adalah ciptaan-Nya. Ketika diantara kita meremehkan atau menghina ataupun mencemooh orang lain yang dianggap lebih buruk dari kita, maka sesungguhnya secara tidak langsung kita sedang meremehkan, menghina dan mencemooh Sang Pencipta-nya. 

Ingat sahabat sekalian, bahwa setiap diri kita itu sama dihadapan Tuhan. Hanya saja derajat ketaqwaan kita-lah yang membedakannya. Iya nggak? :) 

Nah para pembaca sekalian, lebih baik jangan pernah remehkan segala anugerah dan karunia-Nya, baik itu yang ada pada diri kita maupun orang lain. Karena sesungguhnya hidup ini penuh dengan anugerah, nikmat dan karunia-Nya. Untuk itu, inilah saatnya kita bangkit bersama. Jangan ada lagi perasaan “rendah diri” ataupun perasaan minder yang berlebihan-lebihan, walaupun di samping itu juga jangan lantas menyombongkan diri. 

Jangan pernah pula kita remehkann orang lain. Bagaimanapun kondisinya harus tetap kita hargai. Mungkin itu bisa dibilang merupakan wujud sederhana atas rasa terimakasih atau syukur kita kepada Sang Pencipta. Namun sesungguhnya tidak cukup sampai di situ saja. Malu donk sama Tuhan, hehehe….. :) 

Kita sebaiknya harus mampu menggali berbagai keunikan dan kekuatan pribadi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Kita maksimalkan segala potensi diri kita yang merupakan anugerah dari Tuhan untuk menorehkan prestasi terbaik dalam kehidupan. 

Kita juga harus bisa memberikan manfaat positif bagi kemajuan kehidupan dengan menggunakan karunia dari-Nya untuk tujuan-tujuan mulia. Jangan segan-segan membantu dalam kebaikan dan berbagi kepada sesama. 

Mari buktikan kepada Tuhan Yang Maha Cinta, kita mampu menggunakan penglihatan, pendengaran, mulut, tangan, kaki, otak dan semua indera yang Dia titipkan kepada kita untuk tujuan-tujuan yang mulia. Kita bisa hidup di dunia ini karena cinta dan kasih-Nya. Kita hanyalah manusia biasa yang tak sempurna, bukan makhluk suci seperti malaikat. Maka salinglah menghormati, jangan mengumbar aib orang lain dan jangan meremehkan apapun itu.

Salah, Nekad & Bangga? Malu Donk !

Suatu ketika di sebuah sekolah “X” saya menjumpai sekelompok pelajar SMA yang rame-rame membolos saat jam mata pelajaran sedang berlangsung. Mereka justru enak-enakan nongkrong di depan warung kantin dan sekitar tempat rental game. Ada pula yang asyik menghisap rokok dengan santainya, seolah tidak menggubris gurunya yang sedang menerangkan di dalam ruangan kelas. 

Beberapa hari kemudian mereka ketahuan guru BP dan langsung dipanggil untuk ditegur. Namun hebatnya tak ada raut wajah penyesalan sedikitpun yang terpancar dari ekspresi para siswa itu. Bahkan nampak seperti ada kebanggaan tersendiri bagi mereka karena berhasil membolos. Salah kok bangga! 

Pada momen yang berbeda, saat sedang berkendara sepeda motor saya juga menjumpai kasus yang serupa, salah tapi bangga. Yakni kebiasaan oknum pengendara yang suka “sok-sokkan” menerabas lampu merah. Atau kebiasaan oknum pengendara sepeda motor yang suka “bergaya” nyalip sembarangan secara zig-zag kendaraan yang ada di depan/sampingnya tanpa memberikan kode. Kerap pula saya menjumpai kebiasaan para oknum sopir bus antar kota yang suka ngegas sambil mengepulkan asap knalpotnya yang hitam pekat saat merasa ada pengendara lain yang mencoba menyalipnya. Lagi-lagi, salah tapi bangga! 

Di sisi lain, mungkin Anda pernah menyaksikan di media beberapa oknum pejabat yang diketarai melakukan tindakan korupsi. Namun justru mereka tiap hari dikawal dan bergonta-ganti pengacara. Ada pula yang jelas-jelas terbukti melakukan tindakan korupsi namun tetap berkilah dengan sejuta alasannya. Bahkan memutarbalikkan fakta semaunya. Begitulah di negeri ini, banyak kaum elit yang salah tapi tidak pernah merasa bersalah dan tidak mau disalahkan. Malah dengan bangganya tiap hari nongol di media cetak dan TV. Biar eksis, kilahnya. Ah lagi-lagi salah tapi bangga! 

Fenomena “salah tapi bangga” kini semakin marak di negeri ini. Pelakunya pun mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga bahkan oknum pejabat. Sepertinya “salah” itu sesuatu yang wajar, dianggap sudah biasa, sepele, dst. Bahkan dicari-cari beribu alasan untuk menjadikan yang semestinya “salah” menjadi nampak benar. 

Seolah-olah “kebenaran” itu dianggap culun, bodoh, munafik, tak berdaya, dst. Demi mengokohkan sebuah semboyan, “biar salah tapi mesti bangga!”. 

Saya jadi berpikir, kalau kebiasaan berbuat salah menjadi budaya bangsa ini mau dibawa kemana negara kita? Bukankah bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan? 

Jangan biarkan bangsa ini dikuasai oleh budaya “preman” yang bangga akan kesalahannya! 

Mari budayakan bersikap malu dan ksatria manakala kita melakukan kesalahan. Jangan bangga kalau salah, banggalah kalau engkau dengan ksatria berani mengakui atas kesalahanmu!

Cinta itu Buta, Mengapa?

Hey guys, tahukah kalian kalau ternyata seseorang bisa jatuh cinta dalam kondisi dia tidak mengerti apa itu yang dimaksud dengan cinta. Bahkan terkadang dia tak sadar dengan apa yang ia rasakan saat itu. 

Itulah uniknya cinta. Terkadang sulit dinalar dengan logika. Hingga ada sebuah istilah yang menyebutkan bahwa “cinta itu bertindak dulu, baru berpikir”. Tak heran kalau biasanya orang yang sedang dimabuk cinta, kata-katanny justru tak sesuai dengan cinta itu sendiri. 

Misalkan saja “aku cinta padamu sampai mati”, “aku rela mati demi kamu”, dan seterusnya. Itulah cinta! Bertindak dulu berpikir kemudian. Tak heran banyak orang yang mengatakan kalau cinta itu buta. Yupz, love is blind. Buta di sini dalam artian orang seringkali jadi lupa diri hingga hilang arah oleh karena dimabuk cinta. Oh cinta lagi-lagi cinta :)

Guys, diantara kalian mungkin pernah ngeliat orang yang menjadi korban atas kebutaan cinta. Ada orang yang sampai sakit hingga bahkan gila gara-gara cintanya ditolak. Ada orang yang nekat bunuh diri gara-gara patah hati. Ada pula yang sampai tega melakukan tindakan tidak senonoh dengan orang yang dicintainya, lagi-lagi karena cinta buta. 

Bila cinta bisa memilih pasti ia lebih memilih menjadi penerang bagi setiap jiwa. Cinta tidak mau melahirkan kerugian dan bencana. 

Seperti ungkapan tokoh Hamka, tanahnyalah yang berlain-lainan menerima cinta. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah menjadi kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika cinta jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (Hamka). 

Guys, ayo sucikan hatimu agar tidak buta karena cinta! Gunakan selalu mata hati cinta agar cintamu jadi kisah yang terindah :)

Siap?

Belajar Kunci Sukses dari "Sumpah Karate"

Siapa bilang olah raga bela diri karate itu identik dengan yang namanya kekerasan. Terkesan seram dan menakutkan. Bahkan ada beberapa kalangan yang menyebutnya sebagai salah satu olahraga ekstrim dan mematikan. Pasalnya tidak sedikit orang yang mengalami cedera pasca pertandingan karate. Ketika digunakan untuk bela diri pun karate terbukti ampuh melumpuhkan lawan dalam sekejap meski tanpa senjata apapun. Dibalik keekstrimannya itu ternyata olahraga karate juga memiliki nilai-nilai filosofi kearifan untuk meraih kesuksesan. 

Karate merupakan seni bela diri yang berasal dari Jepang. Karate terdiri dari dua kanji, “Kara” berarti kosong dan “Te” berarti tangan. Yang bila digabungkan menjadi “tangan kosong”. Ya, karate adalah seni beladiri dengan tangan kosong. Di Indonesia sendiri karate ada yang aliran tradisional dan ada pula yang aliran olah raga. 

Latihan dasar dalam karate terbagi menjadi tiga, yaitu kihon, kata, dan kumite. Kihon merupakan latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis. Kata merupakan latihan jurus atau bunga karate. Kumite merupakan latihan tanding atau sparring. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Karate) 

 Di dalam seni bela diri karate ada yang namanya “Sumpah Karate”. Antara lain sebagai berikut (1) Sanggup memelihara kepribadian (2) Sanggup patuh pada kejujuran (3) Sanggup mempertinggi prestasi (4) Sanggup menjaga sopan santun (5) Sanggup menguasai diri. Kelima sumpah tersebut wajib dipegang teguh dan diamalkan oleh semua karateka atau anggota karate. 

Jika direnungkan dan benar-benar diamalkan dengan kesungguhan hati, ternyata “Sumpah Karate” mampu membawa seseorang meraih kesuksesan hidup. Faktanya, banyak sekali anggota karate dari aliran apapun itu yang menjadi orang sukses dan besar. Mulai dari menjadi anggota Polri, anggota TNI, pelatih, PNS, pengusaha hingga bahkan pejabat. 

Saya sendiri pernah belajar Karate INKAI dan kebetulan juga memiliki seorang teman yang cukup aktif menjadi pengurus di karate INKAI tingkat kampus. Terbukti saat kuliah dia menjadi salah satu lulusan terbaik tingkat fakultas dengan predikat camlaude. Sensai karate saya juga pernah berkisah tentang bagaimana beliau bisa diterima sebagai pegawai di sebuah bank ternama berkat sabuk hitamnya. Ada lagi beberapa teman yang berhasil keliling Indonesia hingga bahkan go internasional karena berhasil menjadi juara karate. 

Ini membuktikan bahwa walaupun nampak sebagai seni bela diri yang ekstrem dan menakutkan, namun karate memiliki nilai-nilai kearifan yang bisa mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Sumpah karate yang pertama mengajarkan tentang pentingnya menjaga integritas diri/kepribadian. Sumpah karate yang kedua mengajarkan tentang pentingnya kejujuran. Sumpah karate yang ketiga mengajarkan tentang semangat juang untuk terus berprestasi/berdaya. Sumpah karate yang keempat mengajarkan tentang pentingnya menjaga sopan santun/hidup bertata-krama. Sumpah karate yang kelima mengajarkan tentang pengendalian/penguasaan diri. 

Nah sekarang kita semua tahu kalau seni bela diri karate itu ternyata memiliki filosofi yang luar biasa bila diamalkan. Tidak sedikit orang-orang besar termasuk para pejabat di negeri ini yang juga merupakan anggota karate. Di dalam seni bela diri karate juga tidak memandang apakah orang itu besar kekar atau kurus chungkring. 

Semuanya berkesempatan sama-sama bisa meraih kemenangan, bisa menjadi sang juara, asalkan giat berlatih secara disiplin. Seni bela diri karate adalah simbol penempaan jiwa raga. Seseorang yang ingin sukses mesti melewati dahulu penempaan jiwa dan raga. Barulah orang tersebut akan mampu meraih sekaligus mempertahankan kesuksesannya itu dengan tetap rendah hati dan mawas diri.

Memaknai 67 Tahun HUT Kemerdekaan RI

Pada setiap menjelang tanggal 17 Agustus masyarakat tiba-tiba disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia. HUT kemerdekaan RI rutin diperingati setiap tahun dengan cukup meriah. Hampir seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai golongan turut berpartisipasi aktif dalam memeriahkan HUT kemerdekaan RI tersebut. 

Namun ironisnya selama ini masyarakat Indonesia justru terlalu larut dalam euphoria kemeriahan perayaan HUT kemerdekaan semata. Sehingga peringatan HUT kemerdekaan RI selama ini terkesan masih seremonial belaka. 

 Pada setiap peringatan HUT kemerdekaan RI sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar luapan kemeriahan. Yaitu bagaimana bangsa Indonesia mampu merefleksikan akan makna dari kemerdekaan itu sendiri. Termasuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmat-Nya lah bangsa ini bisa merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, walau harus ditebus dengan darah para syuhada atau pahlawan yang gugur dalam medan perang. 

Kini kita sudah merdeka, namun kemerdekaan bukan berarti akhir dari perjuangan bangsa ini. Seperti ungkapan Bung Karno the founding fathers, kemerdekaan adalah jembatan emas. Kemerdekaan Indonesia merupakan jalan untuk mencapai suatu tujuan yang luhur. 

Makna dari merdeka sejatinya merupakan persoalan pribadi/personal sebelum menjadi persoalan bangsa. Belumlah merdeka sebuah Negara yang individu masyarakatnya saja masih merasakan adanya penjajahan-penjajahan dan penindasan-penindasan model baru seperti sekarang ini. Maka dari itu sesungguhnya merdeka adalah pertarungan jati diri personal/individu sebelum menjadi perjuangan entitas sebuah bangsa. 

Makna merdeka bagi individu/personal masyarakat pun harus kita luruskan kembali, yang mana selama ini seringkali disalahartikan. Individu masyarakat sering memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya, hingga yang terjadi justru kebablasan. 

 Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan sejati akan tercapai ketika para individu manusianya sudah bisa mengekang diri dari perilaku yang bisa melanggar atau mencederai kemerdekaan dan hak azasi orang lain. Kemerdekaan sejati mensyaratkan adanya hukum, peraturan, serta norma-norma yang harus kita taati bersama untuk tetap menjaga kekokohan kemerdekaan itu sendiri. Manakala setiap individu telah berlomba-lomba melanggar hukum, peraturan, serta norma-norma yang telah disepakati bersama; maka sejak itulah kemerdekaan yang ada akan dengan mudah diruntuhkan kembali. 

Tahun 2012 ini, genap 67 tahun sudah usia kemerdekaan NKRI. Itu artinya sudah banyak gemblengan-gemblengan dan proses pendewasaan yang dialami bangsa ini. Masih begitu banyak dan komplek masalah, ancaman serta tantangan yang harus dihadapi bangsa ini kedepan. Mulai dari kemiskinan, korupsi, terorisme, maraknya kriminalitas, masalah moralitas dan sebagainya. 

Memang tidak mudah menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang semakin ruwet itu. Tentu kita tidak bisa banyak berharap kepada Pemerintah. Mestinya bangsa ini segera bangkit, singkirkan segala ego dan bergerak bersama untuk tuntaskan berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung usai secara bijak. 

Mungkin saja negara ini belum membuat kita merasa nyaman tinggal di dalamnya. Jangan pusingkan dulu soal maraknya korupsi, masalah moral bangsa, masalah kemiskinan, masalah pengangguran, ataupun pendidikan yang tak kunjung usai. Bagaimanapun kondisinya ini tetaplah tanah air kita tercinta. 

Jangan sia-siakan waktu luang yang bangsa ini miliki hanya untuk saling adu jotos, saling curiga, atau hal-hal tidak penting lainnya. Sekarang coba kita pikirkan apa karya atau prestasi yang bisa kita persembahkan untuk bangsa dan negara ini. Saatnya kita mengisi kemerdekaan yang telah diraih para pahlawan bangsa dengan terus produktif berkarya dan tulus mengabdi untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

DIRGAHAYU NKRI, JAYALAH TERUS INDONESIA!

Kamis, 09 Agustus 2012

Jadikan Ospek Lebih Humanis

Selama ini Ospek merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap kampus pada awal tahun ajaran baru. Kegiatan Ospek bertujuan untuk mengorientasi dan memperkenalkan para mahasiswa baru terkait lingkungan kampus dan segala peraturan yang ada. 

Namun nyatanya kegiatan Ospek kini justru menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswa baru. Hal ini dikarenakan banyak kegiatan Ospek yang menjurus pada perpeloncoan hingga bahkan tindakan kekerasan. Bagaimanapun kegiatan 

Ospek selama ini dirasa memang diperlukan. Sebab kegiatan itu sebagai pengenalan dan pembekalan bagi para mahasiswa baru dalam menyelami kehidupan kampus nantinya. Hanya saja memang masih perlu ada pembenahan pada praktik kegiatan Ospek di kampus-kampus. 

Kegiatan Ospek mestinya haruslah lebih humanis dan edukatif. Hindari aksi-aksi kekerasan maupun perpeloncoan. Karena di samping menimbulkan rasa dendam hal itu juga akan menyisakan luka dan trauma secara psikologis. 

Kegiatan Ospek yang humanis adalah kegiatan Ospek yang lebih ditekankan pada pembentukan karakter mahasiswa baru. Tentunya akan diwarnai dengan kegiatan-kegiatan yang edukatif dan menyenangkan. 

Termasuk di dalamnya adalah bagaimana membangkitkan rasa nasionalisme dan membentengi para mahasiswa baru dari ideology-ideology radikal.