Senin, 31 Mei 2010

Hujan, cepatlah berlalu...

HUJAN…

hujan senja ini mengingatkan ku pada kala itu,
12 tahun silam masa perjuangan,
perjuangan yang tak kan pernah sirna dari ingatan ku,
perjalanan panjang penuh cobaan,

Waktu itu,
di kala embun pagi masih membasahi kaki langit,
dinginnya pagi yang menusuk jiwa,
dengan kaki mungil, kukayuh kencang-kencang sepeda tua itu
sepeda tua yang selalu menemani ku ke sekolah,

Tak kan pernah terlupakan,
keringat asin yang bercucuran membasahi kening ku,
bekas keringat itu kan selalu melekat di seragam ku kala itu,
menjadi kenangan indah yang kan abadi dalam hidup ku,

masih terbayang-bayang dalam ingatan ku,
ingin rasanya berteriak menangis kala itu,
ketika petir bersahut-sahutan di atas kepala ku,
dinginnya hujan pun menyemarakkan kesengsaraan yang ku alami kala itu,

pada siang, ketika matahari berada di atas kepala ku,
aku hanya bisa pasrah kepada-Nya,
sengatan sang surya kala itu masih membekas di kulit ku,
kini menyatu dalam diri ku, menjadi bara semangat

mungkin hanya Tuhan yang tahu,
angin, hujan, petir, dan matahari pun jadi saksi bisu,
perjuangan panjang kala itu,
kini semua telah berlalu,

Tuhan benar-benar telah mengabulkan doa ku kala itu,
kini ku petik hasil manis dari perjuangan ku 12 tahun silam,
aku yakin Tuhan itu memang ada,
Dia Maha Besar,
percayalah,

Selasa, 25 Mei 2010

Revitalisasi Pendidikan Karakter di UNY

Pada peringatan Hardiknas tanggal 2 Mei yang lalu Mendiknas mengangkat sebuah tema besar yaitu “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa". Pemilihan tema ini memang cukup relevan dengan perkembangan dan perubahan aspirasi masyarakat yang sangat dinamis serta melihat terjadinya kemerosotan moral generasi bangsa pada zaman globalisasi ini. Menurut Mendiknas, itulah sebabnya kita sungguh menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter bangsa dalam arti luas. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Melihat pernyataan Mendiknas tersebut maka tampak jelas bahwa kebijakan pendidikan nasional ingin mencoba untuk mentasbihkan dan melaunching kembali gerakan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang jauh hari telah ditekankan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Di dalam Bab II Pasal 3 UU Sisdiknas juga dituliskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban bangsa yang tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat negatif, karakter negatif dan lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah. Peradaban yang lemah akan dengan mudah hancur ditelan waktu.

Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita. Untuk itu dunia pendidikan harus mampu menjadi motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter bangsa, sehingga anggota masyakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi NKRI dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama. Yang dimaksud karakter yaitu merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut yang terwujud di dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Jadi Pendidikan membangun karakter, mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Dalam mewujudkan pendidikan karakter, tidak dapat dilakukan tanpa penanaman nilai-nilai (Azyumardi Azra, 2002:175). Indonesia Heritage Foundation merumuskan nilai-nilai yang patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter antaralain : cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab, berdisiplinan, dan mandiri; mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun; mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama; percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta damai, dll.

Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas akan tetapi juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang bagaimana mungkin kita membangun karakter bangsa lewat pendidikan bila dalam dunia pendidikan banyak masalah dengan karakter yang dimaksudkan itu? Maka dalam hal inilah UNY sebagai perguruan tinggi yang mencetak para tenaga pendidik harus mampu menjadi ujungtombak bangsa yang ikut bertanggung jawab untuk menterjemahkan kebijakan itu. Terkait dengan itu, dan dalam menghadapi tantangan global yang berorientasi pada World Class University (WCU), UNY dalam Dies Natalis ke-46 tahun 2010 mengambil tema “Peran UNY dalam Pengembangan Pendidikan Karakter menuju WCU”.

Upaya mulia itu tentu perlu kita berikan apresiasi dan dukungan bersama seiring UNY yang mengharapkan lulusannya supaya menjadi pribadi-pribadi yang cendekia, mandiri dan bernurani (CeMaNi). Ini tentu sebuah langkah kemajuan besar dari sebuah kampus dimana nantinya dihasilkan para tenaga pendidik. Jika upaya UNY ini berhasil, tentu akan menimbulkan "brand" di mata masyarakat bahwa UNY merupakan basis cendekia-cendekia yang tidak hanya cerdas dan mandiri, namun juga berkarakter. Seperti kita ketahu bersama, pendidikan karakter tidak akan mungkin berhasil tanpa dukungan dari seluruh elemen bangsa. Dan khususnya di sekolah, pendidikan karakter akan berhasil tercapai ketika para pendidiknya pun berkarakter. Dari sinilah kita harapkan UNY sebagai kampus pencetak para tenaga pendidik, mampu mengasilkan para pendidik yang profesional dan berkarakter. Pada akhirnya semua ini tak akan berarti apa-apa ketika itu semua hanya berakhir sebagai sebuah "wacana". SEMOGA

Mari kita dukung bersama UNY menuju Worl Class University yang Berkarakter (Bernurani, Mandiri, Cendekia)

Selasa, 18 Mei 2010

BUKU (sebagai) MENARA PERADABAN

BUKU (sebagai) MENARA PERADABAN

Tanggal 17 Mei merupakan Hari Buku Nasional. Namun ironisnya masih saja banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya, boro-boro memperingatinya. Berbeda dengan hari-hari besar lainnya seperti Valentine Day yang walaupun jauh-jauh hari telah dipersiapkan secara matang untuk menyambut perayaannya. Bisa dibilang aneh dan menggelikan, namun itulah kenyataan yang terjadi pada masyarakat kita ini. Sepertinya buku belum menjadi kebutuhan dalam kehidupan masyarakat, bahkan sering kali disepelekan. Entah karena deraan krisis ekonomi yang masih menyelimuti bangsa ini, sehingga buku belum menjadi kebutuhan yang diperhitungkan atau karena memang masih rendahnya minat baca masyarakat kita. 

Padahal selama ini sejarah mencatat bahwa hampir seluruh tokoh besar perubahan dunia merupakan para penggila buku. Seperti Abraham Licoln, John Quicy Adams, dan JF Kennedy; mereka merupakan diantara mantan pemimpin-pemimpin besar Amerika Serikat yang gila buku. Inggris pun pernah memiliki pemimpin legendaris Winston Schruchill yang maniak buku; dan India memiliki pemimpin besar Jawaharlal Nehru yang kutu buku. Keteladanan mereka dalam hal membaca buku telah tertular secara meluas pada rakyatnya. Hingga pada akhirnya ketiga negara itu sekarang tercatat sebagai penghasil buku terbesar di dunia. Ini menunjukkan begitu dahsyatnya peranan buku dalam membangun peradaban suatu bangsa.

Dalam sejarah juga mencatat pernah ada seorang pemimpin yang dapat berkuasa secara penuh dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu Firaun. Dan ternyata Firaun membangun kekutannya bukan hanya ditopang oleh kekuatan militer yang besar, akan tetapi dia sendiri merupakan seorang intelektual yang memiliki sekitar 20.000 koleksi ”buku” di perpustakaannya. Dalam konteks nasional, kita dapat melihat hampir semua pahlawan kemerdekaan adalah para kutu buku. Para pahlawan nasional juga rata-rata adalah para pecinta buku. 

Lembaran hidup para pahlawan kita hampir tidak bisa dipisahkan dari lembaran-lembaran naskah buku yang Beliau baca dan tulis pada masa hidupnya. Belum pernah tercatat dalam lembaran sejarah ada seorang pemimpin besar yang sukses tanpa buku. Bung Karno, Bung Hatta, Adam Malik, Agus Salim, Tan Malaka merupakan sebagian diantara founding fathers NKRI yang sangat menggandrungi buku. Mereka juga menulis buku serta memberikan kontribusi besar bagi perubahan dunia. Bahkan Bung Hatta menjadikan buku sebagai istri pertamanya. Saking cintanya pada buku, konon Bung Hatta memberikan mas kawin kepada Ibu Rahmi (sang istri) berupa dua jilid buku karangannya sendiri.

Tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwa buku sebagai menara peradaban. Sebab dari buku peradaban manusia semakin berkembang dan maju. Dunia tanpa buku adalah kegelapan. Peradaban tanpa buku akan menjadi rapuh dan menuju kehancuran. Sebagai kekuatan budaya, buku adalah aliran darah bagi keberlangsungan suatu bangsa. Buku juga merupakan guru yang paling baik karena ia tidak akan pernah jemu menggurui kita. Melalui buku, seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan dan abadi dalam sejarah.

Dalam perkembangan peradaban manusia, buku memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kendati demikian, kedahsyatan buku tentu tidak akan ada apa-apanya jika benda tersebut hanya dipajang dirak-rak perpustakaan, tidak pernah disentuh dan dibaca. Inilah masalah yang sedang bangsa kita hadapi saat ini, “Rendahnya Minat Baca Masyarakat”. Padahal keadaan dunia perbukuan merupakan sebuah indikator utama maju tidaknya suatu bangsa. Kini, buku sedang menjalani sebuah kisah yang memilukan di negeri tercinta ini. “Menara Peradaban” itu kini sedang terkoyak diterjang badai kegelapan. Badai kegelapan itu akan segera berakhir manakala kita semua sadar dan mau menjadi Masyarakat Pembaca.

Bangsa ini harus bercermin dari Negara Jepang yang kemajuan IPTEK dan kemakmurannya sulit ditandingi. Kecerdasan anak-anak Jepang menempati tingkat tertinggi di dunia.Satu hal yang wajib kita perhatikan adalah tingginya minat baca masyarakat Jepang. Bahkan membaca sudah menjadi kebutuhan pokok bagi para masyarakat di Jepang. Artinya, bagi orang Jepang, sesantai apa pun kegiatan yang sedang mereka tekuni, membaca tetap menjadi suatu kebutuhan layaknya kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Namun, sebaliknya, bagi orang Indonesia, sesantai apa pun kegiatan yang tengah ditekuni, membaca belum dijadikan suatu kebutuhan. Pendek kata, rendahnya budaya baca buku masyarakat perlu dianggap sebagai persoalan serius dan segera dicarikan solusinya.

Entah kapan kita mampu membangun kondisi di mana buku dibaca karena dipercaya mampu mendatangkan faedah yang besar untuk kemajuan hidup. Entah kapan para mahasiswa kita menjadi pecandu buku karena percaya dengan banyak membaca mereka anak berkembang menjadi orang pandai. Jawabnya, kalau masyarakat Indonesia sudah yakin bahwa buku ternyata sudah berhasil membimbing kemajuan dunia. Sayang keyakinan seperti itu hanya ada pada masyarakat yang mau sungguh-sungguh belajar dari sejarah. Dan sejarah kita membuktikan bahwa kita kurang suka membaca buku.