Senin, 14 Juni 2010

STOP Komodifikasi Perempuan! (Bag. 1)

Cipta Cinta Damai menuju 21 year  "Kemilau untuk Negeri"

Mungkin sekarang para perempuan Indonesia bisa tersenyum indah menikmati kesetaraan gender yang “konon” telah diraih saat ini. Tentu sudah semestinya para perempuan Indonesia bersyukur kepada Tuhan, dan RA. Kartini sang pejuang sejati emansipasi wanita di Indonesia. Namun perlu kita sadari bersama, dari hasil analisa ternyata secara tidak sadar atau “memang dibuat tidak sadar” saat ini sebenarnya telah terjadi komodifikasi wanita. Benarkah?!

Ya benar sekali, penulis rasa itu merupakan kata-kata terhalus yang bisa melukiskan betapa kini para perempuan telah dibuat tidak sadar secara kasat mata. Hingga akhirnya apa yang terjadi? Bisa kita amati saat ini betapa peradaban kapitalis telah berhasil jaya mengkomodifikasikan hal-hal yang “menarik” dari seorang wanita menjadi barang komoditas baru di dunia. 

Mengapa penulis mengangkat judul “STOP Komodifikasi Perempuan” ? Hal ini didorong atas keprihatinan penulis yang amat mendalam (lebay ^_^) atas penjara hidup yang masih memperangkap perempuan hingga detik ini. Dan ironisnya dari analisa penulis masih banyak sekali perempuan yang belum menyadarinya. Bahkan yang lebih menyedihkan, ada juga yang justru menikmati hal itu. What’s up?

Pengkomodifikasian perempuan benar-benar Nampak nyata telah menunjukkan betapa sebuah system kapitalis telah menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Penulis melihat kini para perempuan Indonesia sedang terpenjara oleh gelar “Cantik”. Gelar cantik saat ini telah menjadi semacam prestis dan kebanggaan bagi para kaum “Hawa”. Pada akhirnya gelar “Cantik” pun menjadi peluang emas bagi para kaum kapitalis untuk memasuki celah-celah dimana para perempuan justru termabuk kepayang menikmatinya. Bagaimana mungkin para perempuan menikmatinya? 

Ya, penulis melihat kini semakin banyak perempuan yang justru menikmati pengkomodifikasian yang dilakukan oleh para kaum kapitalis. Dari analisa penulis tanpa disadari para perempuan kini benar-benar telah dibius oleh sebuah sistem kapitalis hingga mereka tak sadarkan diri dengan pengkomodifikasian yang semakin kasat mata itu. Pembiusan itu tentu bukan memakai semacam obat, narkoba, ganja atau obat memabukkan lainnya. Namun system kapitalis telah berhasil membius kaum perempuan dengan segala pesona palsu yang ditawarkannya. Contohnya saja pesona kepopuleran/ketenaran, pesona uang/harta, pesona jabatan, pesona teknologi, dsb. Lalu seperti apa itu Komodifikasi perempuan?

Komodifikasi perempuan yang terjadi saat ini banyak sekali bentuknya. Contohnya antara lain bisa kita lihat di berbagai media yang mana Nampak jelas perempuan (baca : tubuh) telah dijadikan semacam icon daya tarik agar konsumen atau masyarakat membeli produk tertentu. Mulai dari produk sabun, pewangi pakaian, parfum laki-laki, produk makanan & minuman, dsb. Tidak hanya itu, jika kita lihat acara-acara di media televisi pun semakin nyata pengkomodifikasian itu. Mulai dari MC tayangan infotainment, MC reality show, MC berita, musik show, dancer, pembawa berita, hingga acara sinetron. Semua itu selalu saja dibalut oleh pesona seorang perempuan sebagai “korban tak sadar” yang berhasil dibius oleh system kapitalis global.

Pada akhirnya penulis yang bukanlah siapa-siapa ingin mencoba mengajak para perempuan Indonesia untuk membuka mata hati dan nurani; mari lihat, rasakan, renungkan dan segera lakukan tindakan untuk melawan segala bentuk komodifikasi terhadap para kaum perempuan. Perlawanan dalam hal ini perlu penulis garisbawahi, yang berarti perlawanan melalui karya-karya dan sumbangsih untuk negeri sesuai dengan kodrat-nya. Jangan sampai para kaum perempuan justru melenceng dari kodrat menjadi bergaya kelaki-lakian. Ini pun tentu bukan yang kita harapkan.

Tunggu lanjutannya...

Rabu, 09 Juni 2010

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

============ ========= ====

Terjemahannya …

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Courtesy:

http://www.michaelheart.com/

Senin, 31 Mei 2010

MENGGUGAT MAKNA “CINTA SEJATI” YANG TEREDUKSI : Bag. 1

Aku sangat kagum pada sebuah keluarga pemulung yang begitu harmonis dan penuh cinta. Aku melihat dan merasakan ada energi cinta sangat besar yang terpancar dari keluarga pemulung itu. Mereka tampak begitu kompak dan harmonis. Aku melihat ada pancaran kebahagiaan dari sorot mata mereka. Aku selalu mengamati mereka diam-diam, mereka tampak begitu bahagia dengan kondisi yang apa adanya. Sungguh sebuah keluarga yang luar biasa. Sang Ayah menarik gerobak, ibu beserta dua anaknya berada di atas gerobak yang bercampur barang-barang bekas. Aku benar-benar salut dengan keluarga pemulung itu. Tak nampak raut kesal ataupun penyesalan di wajah mereka karena harus menjadi pemulung. Justru aku melihat adanya senyum bahagia di raut wajah mereka. Benar-benar sebuah keluarga yang telah memahami dan menghayati apa itu cinta sejati.

Namun di sisi lain terkadang aku merasa amat prihatin melihat sahabat-sahabat generasi muda Indonesia yang sering kali salah mengartikan cinta. Aku melihat dengan mudah mereka katakan cinta, seperti mudahnya mereka nodai dan khianati makna suci dari cinta itu sendiri. Penulis sadari betul, kini adanya perkembangan ICT yang tanpa filter dan control yang kuat, telah mengakibatkan para sahabat-sahabat muda terjebak pada makna cinta yang penuh kepalsuan. Penulis merasa makna cinta kini telah tereduksi oleh berbagai hal. Telah tereduksi oleh globalisasi, teknologi, kapitalisme, dll. Cinta tak lagi seperti kisah Romeo & Juliet ataupun kisah cinta Ratna dan Galih yang terus abadi. Masihkah ada kini Cinta Sejati itu? 

Aku melihat kini makna cinta itu makin jauh dari makna cinta sejati yang suci dan tulus. Kini begitu mudah terucap kata cinta, tapi bukan dari ketulusan hati, melainkan nafsu sesaat. Inilah persepsi yang harus segera kita ubah. Karena cinta yang didasari ambisi nafsu dan syahwat semata hanya akan berakhir dengan penyesalan. Mereka yang mencintai dengan ambisi nafsu dan syahwat, sering kali merasa bahwa mereka berhak mencintai apapun, dan karena itu ia berhak memiliki sepenuhnya. Dengan kata lain segala yang ia cinta, maka harus menjadi miliknya. Karena merasa menjadi miliknya, maka yang dicinta harus tunduk di bawah kemauannya. Ini tentu bukan makna cinta yang sesungguhnya. 

Apalagi kini ada sebagian  sahabat-sahabat muda Indonesia yang memaknai cinta sebagai seks, mereka beranggapan cinta tak kan lengkap tanpa seks. Dan kini seks pun seakan menjadi bumbu-bumbu penyedap rasa dalam romantika percintaan. Subhanallah! Penulis pernah  mengamati dibeberapa lingkungan kampus dan kos-kos-an. Kenyataannya penulis melihat banyak para oknum mahasiswa yang berduaan  (lawan jenis) melakukan hal-hal tidak terpuji di tempat-tempat sepi, sekitar kampus. Ini tentu perlu kesadaran kita bersama, bahwa free sex itu merupakan perbuatan yang amat memalukan dan terkutuk. Dan kita patut melantangkan "Say No to Free Seks" !

Cinta sejati haruslah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai. Cinta sejati seharusnya membuat yang dicintai merasa dihargai, aman,damai, tentram dan selalu bahagia. Cinta sejati merupakan cinta yang mampu menggerakkan sang pecinta untuk mengharagai kekasihnya, memberikan perhatian, dan menerima apa adanya. Memaknai cinta seperti itu tentu akan membuat cinta itu lebih indah dan bermakna.

Bersambung…