Selasa, 09 November 2010

Politik Ala Mahasiswa

Pada setiap dinamika kebangsaan yang terjadi di tanah air mahasiswa memang hampir tidak pernah absen untuk turut berperan aktif di dalamnya. Itu semua merupakan wujud nyata darma mahasiswa terhadap bangsa dan Negara. Apalagi sebagai kaum intelektual mahasiswa juga menyandang gelar sebagai agen perubahan (agent of change). Dalam hal ini ada dua tanggungjawab besar yang harus diemban oleh seorang mahasiswa, yaitu tanggungjawab akademik dan tanggungjawab sosial. Tanggungjawab akademik terkait dengan tanggungjawab pengembangan dunia keilmuwan serta penerapannya dalam masyarakat. Tanggungjawab akademik menuntut mahasiswa untuk belajar sesuai dengan bidang keilmuwan yang diambilnya. Sedangkan tanggungjawab sosial mahasiswa tidak bisa dipisahkan dengan peran mahasiswa sebagai agent of change.

Dalam menjalankan peran sebagai agent of change idealnya tugas seorang mahasiswa tidak hanya menyerukan gerakan perubahan semata, namun juga gerakan-gerakan pembaharuan yang inovatif dalam wujud nyata. Dan untuk mencapai semua itu tidak bisa dilepaskan dari ranah politik. Kita pun masih ingat dengan jelas betapa melalui kekuatan politik para mahasiswa berhasil menumbangkan hegemoni dan rezim otoriter yang berkuasa waktu itu. Maka jika ditanya “haruskah mahasiswa berpolitik?”, menurut pandangan penulis pribadi ya mahasiswa memang perlu “berpolitik”. Politik ala mahasiswa tentu harus dibedakan dengan politik “ala” anggota dewan yang hanya berorientasi kekuasaan dan kesejahteraan kelompoknya semata. Politik ala mahasiswa idealnya berorientasi pada gerakan politik nilai dan moral.

Mahasiswa sebagai actor utama gerakan politik nilai dan moral dapat memainkan dua peran penting sekaligus, yaitu control social dan social pressure. Posisi mahasiswa sebagai kontrol sosial terkait tanggungjawab mahasiswa dalam ikut serta mengawasi dan mengawal jalannya demokrasi serta kepemimpinan politik. Dalam hal ini bukan berarti mahasiswa haus akan kekuasaan, namun lebih pada memainkan peran agar demokrasi dan politik tetap berjalan pada rel yang semestinya. Sedangkan sebagai social pressure mahasiswa memainkan peran menjadi tekanan sosial atas segala ketidakadilan serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Jadi menurut pandangan penulis seorang mahasiswa memang perlu belajar “berpolitik”. Di samping sebagai sebuah pembelajaran, berpolitik dalam artian gerakan nilai dan moral yang dilakukan oleh mahasiswa saat ini sangat diperlukan untuk mengawal jalannya demokrasi di tanah air. Gerakan politik nilai dan moral ini bisa diwujudkan melalui beberapa hal, misalnya; orasi budaya, demonstrasi yang beretika, kritik melalui tulisan, dll. Gerakan politik ala mahasiswa idelnya gerakan yang berbasis moral dan intelektual. Sehingga harus cerdas serta tetap mengedepankan etika.

Sabtu, 04 September 2010

Bersahabat dengan Kesendirian, Bukan berarti Egois!

Hai para sahabat pembaca sekalian, pernahkah Anda melihat orang yang nampaknya selalu hidup dalam kesendirian. Pernahkah sahabat pembaca sekalian menyaksikan orang-orang yang nampaknya tidak punya kawan atau teman, dan lebih sering dalam kesendirian. Biasanya kita sering kali mencemooh orang yang nampak selalu sendiri atau kurang dalam bersosialisasi dengan sebutan “manusia individualis atau manusia egois”.Benarkah mereka itu patut kita sebut sebagai “manusia individualis” atau manusia egois”?

Menurut saya pribadi sebenarnya tidak selamanya cap itu patut kita berikan kepada mereka orang-orang yang suka dalam kesendirian. Bahkan seringkali tidak tepat, sebab bersahabat dengan kesendirian merupakan sebuah pilihan hidup. Kita tahu hidup ini penuh dengan pilihan. Kita boleh memilih apapun yang kita yakini, asalkan tetap sesuai dengan kaidah-kaidah dan berjalan pada rel kehidupan yang tepat. Sebenarnya mungkin tidak ada yang ingin bersahabat dengan kesendirian, karena sifat alamiah manusia yang ingin selalu bersosialisasi dan diakui eksistensinya. Namun ada banyak factor yang mendorong seseorang untuk lebih memilih hidup dalam kesendirian.

Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini terkadang juga menjadi pemicu seseorang untuk lebih memilih bersahabat dengan kesendirian. Misalnya saja seseorang memilih bersahabat dengan kesendirian karena merasa tidak cocok atau tidak nyaman hidup di lingkungannya. Mungkin lingkungannya kurang mendukung seseorang itu untuk diakui eksistensinya. Bisa jadi factor pemicunya karena seseorang selalu dicemooh atau diejek dalam kehidupan sosialnya. Sehingga mungkin orang itu merasa rendah diri, minder, frustasi, stress, dsb yang pada akhirnya memutuskan untuk bersahabat dengan kesendirian. Mungkin orang-orang seperti itu merasa lebih enjoy ketika hidup dalam kesendiriannya.

Namun yang ingin saya tekankan dalam hal ini bagaimana kita menyikapi dengan baik terhadap orang-orang yang lebih suka “bersahabat dengan kesendirian”. Yang harus kita pahami dan sadari bersama saat ini adalah tidak selamanya orang-orang yang cenderung bersahabat dengan kesendiriannya itu bersifat negative. Dan bisa dengan seenaknya kita cap sebagai orang yang individualis atau manusia egois. Mengapa? Kembali lagi harus kita lihat secara bijak dan komprehensif semua itu. Jangan melihat dan menilai segala sesuatu terutama “menilai seorang manusia” dengan hanya memandang satu sisi atau dalam satu sudut pandang saja. Karena memang setiap manusia itudiciptakan oleh Tuhan atau Allah SWT dengan berbeda-beda dan memiliki keunikan khusus pada masing-maing pribadi. Manusia bisa dibilang makhluk Allah SWT yang paling unik dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Nah dalam “menilai seseorang” kita tidak berhak menghakimi atau bahkan memvonisnya dengan sesuka kita. Sebab yang lebih berhak menilai seseorang itu hanyalah Allah SWT semata. Kita sebagai manusia biasa tentu dalam menilai seseorang ada batasannya. Karena sesama makhluk ciptaan-Nya setiapdiri kita pun memiliki ketidaksempurnaan. Sehingga dalam hidup ini sebisa mungkin kita harus menjadi pribadi yang bijaksana. Kemabli lagi, bahwa bersahabat dengan kesendirian itu tidak-lah selamanya karena sifat egois atau individualis pada diri seseorang. Ada banyak alasan yang memicu seseorang lebih memilih bersahabat dengan kesendirian seperti yang telah saya jelaskan di atas. 

Faktor pemicu lain yaitu mungkin saja orang tersebut ingin lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab dari pengamatan saya selama ini, menemukan ada beberapa orang yang sering dicap “egois”, “individualis”, “tidak punya teman”, “tidak sosial” dan sebagainya, namun di balik semua itu ternyata SUBHANALLAH orang tersebut justru sangat peduli dan rasa sosialnya pun sangat tinggi. Hanya saja “mereka” itu lebih memilih untuk tidak diketahui oleh orang lain. “Mereka” ingin berbuat suatu kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain, cukup dilihat Allah saja. Tentu ini hak “mereka” dan sebuah jalan hidup yang “mereka” pilih. Kita sebagai manusia biasa tidak memiliki hak untuk menilai seseorang atas sudut pandang kita semata.

Sedikit cerita nyata, saya punya seorang sahabat yang tidak mau disebutkan namanya. Dia merupakan seseorang yang “nampaknya” dari sudut pandang manusia biasa ia terlihat memilih bersahabat dengan kesendirian. Padahal nyatanya sahabat saya itu sangat peduli terhadap sesama, baik sesama manusia maupun terhadap lingkungannya. Bahkan ia juga sangat peduli akan bangsa dan negaranya. Ia seringkali menyebarkan semangat perdamaian dan nasionalisme terutama melalui tulisan-tulisannya. Ia juga tidak segan-segan turun sejenak di jalan saat melihat ada batu ataupun benda di tengah jalan, yang ia rasa bisa membahayakan keselamatan para pengguna jalan. Namun tak ada orang yang tahu, bahkan ia seringkali dicap manusia yang kurang sosial, orang tertutup, egois , dan cap-cap lainnya. Sahabat saya yang satu ini tetap tidak peduli akan cap-cap itu. Dan ia pun tidak pernah menginginkan perbuatannya itu dilihat, dipuji, ataupun diekspose oleh orang lain. Ia lebih memilih hanya Allah semata yang menilainya.

Sesungguhnya setiap kita para manusia butuh saat-saat kesendirian. Karena kesendirian merupakan waktu untuk introspeksi diri, waktu untuk menata hati, waktu untuk mengasah ketajaman dan kepekaan naluri serta nurani kita. Kesendirian juga bisa disebut sebagai sebuah seni. Yaitu seni untuk menemukan dan mengolah bakat, segala potensi, serta kemampuan yang ada pada diri kita. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah seni untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah sang Maha Pencipta. 

Jika kita menengok sejarah, ada banyak manusia yang jiwa dan pemikirannya menjadi besar serta mencerahkan dunia di balik kesendiriannya . Mereka merupakan manusia mulia yang mampu berkontemplasi, dan saat kesendiriannya mampu berdialog dengan sang diri. Mereka itu antara lain; Nabi Muhammad SAW, Kahlil Gibran, Mahatma Gandi, Siddhartha Gautama, Soekarno, dan masih banyak lagi lainnya. Kita bisa melihat betapa kesendirian telah menuntun mereka menemukan hakikat dan inti dari kebenaran-kehidupan. Di samping itu dibalik kesendiriannya mereka mampu menuntun umat manusia untuk meniti jalan cahaya-Nya.

Pada akhirnya marilah kita renungkan kembali semua ini. Bersahabat dengan kebersamaan memang lebih indah dibandingkan jika bersahabat dengan kesendirian. Namun ada banyak hal yang hanya bisa kita rasakan saat-saat kesendirian. Dibalik kesendirian itu kita bisa temukan jati diri yang sesungguhnya. Dalam kesendirian, mendidik jiwa kita menjadi lebih kuat dalam menghadapi kehidupan. Dalam kesendirian kita dapat rasakan keheningan, ketentraman, serta kedamaian yang sejati dalam hati. Hanya dalam kesendirian pula kita dapat merasakan kehadiran Tuhan. Sebab dalam kesendirian dalam kesendirian manusia sesungguhnya Tuhan begitu dekat. Saat-saat itulah Tuhan merindukan rintihan umat-Nya.

Sekali lagi saya tekankan, bersahabat dengan kesendirian merupakan sebuah pilihan hidup. Dan jangan pernah kita samakan hal itu dengan ke-egois-an atau individualisme. Bersikap bijak dalam segala hal itu sesungguhnya lebih mulia.dan disukai oleh-Nya. Maka jangan pernah menilai seseorang hanya dari satu sisi atau sudut pandang kita semata. Allah SWT –lah satu-satunya zat yang berhak menilai manusia. Perlu kita ketahui dan sadari bersama, tentu berjuang dalam kebersamaan itu lebih terasa ringan, indah dan sudah sewajarnya. Namun ada sebagian orang yang lebih memilih rela berjuang dalam kesendiriannya. “Mereka” berjuang dengan tulus ikhlas dan tak mau pamer, tak mengharapkan penghargaan maupun pujian, apalagi sekedar mencari sensasi di depan layar kaca dunia yang semu ini. 

Nah kembali lagi pada diri pribadi masing-masing kita, apakah mau memilih bersahabat dalam kebersamaan ataukah bersahabat dengan kesendirian.Yang ideal menurut saya pribadi adalah kita harus bersikap sewajarnya. Kita harus mampu bersosialisasi dalam ikatan kebersamaan. Namun kita jangan sampai hanyut tenggelam dalam arus kebersamaan itu. Setiap diri kita dianugerahi potensi, bakat, minat dan keunikan yang tidak sama oleh-Nya. Maka kita harus memiliki keunikan itu, yang mana kita pegang teguh menjadi identitas diri dan karakter pribadi kita. Jangan selalu beranggapan bahwa yang mayoritas itu adalah benar, yang dikerjakan banyak orang itu pasti tepat. Ingat, tidak semua yang disepakati bersama oleh “mayoritas” manusia selalu baik dan benar di mata Allah SWT. Marilah kita kembalikan segalanya hanya kepada Allah semata, sang Maha Pencipta.

Sabtu, 31 Juli 2010

Menggugat Eksklusivisme Pendidikan

Setiap memasuki tahun ajaran baru dalam pendidikan, hampir bisa dipastikan selalu menyisakan berbagai permasalahan yang masih saja terjadi di dalamnya. Para orangtua murid pun dibuat cemas dan sedih dengan semakin melambungnya “harga pendidikan” yang seolah tidak mau kalah dengan kenaikan harga TDL dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya. Rasanya kini semakin sulit mencari sekolah yang tetap idealis dan merakyat. Nampaknya virus kapitalisme global benar-benar telah berhasil menjangkit sistem pendidikan kita sekarang ini. Sehingga membangkitkan hasrat komersialisasi di dalam pendidikan melalui berbagai cara dan media (alat). 

Sejumlah kasus pungutan biaya sangat tinggi oleh beberapa sekolah yang marak terjadi pada setiap tahun ajaran baru menjadi bukti nyata adanya komersialisasi di dalam tubuh pendidikan kita. Apalagi pungutan biaya sangat tinggi yang liar itu untuk sejumlah kebutuhan sekolah yang sesungguhnya tidak substansial dalam proses pendidikan. Salah satu kasus yang cukup mencengangkan akhir-akhir ini yaitu pungutan biaya seragam sekolah yang sangat tinggi, bahkan ada yang mencapai Rp 1,8 juta per siswa. Ini tentu sangat memprihatinkan, karena disamping memberatkan para orangtua atau wali murid, otomatis juga akan menutup kesempatan bagi kaum miskin yang sejatinya memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan berkualitas.

Seragam sekolah pada awal digulirkannya memang memiliki tujuan yang mulia, yakni untuk menghapus kesenjangan sosial-ekonomi antar siswa. Sehingga tidak timbul kecemburuan sosial antara siswa yang kaya dengan siswa yang berasal dari kelurga kurang mampu. Akan tetapi saat ini tujuan mulia dari seragam sekolah telah menyimpang menjadi alat eksklusivitas sekolah. Buktinya kini dalam satu sekolah saja setiap siswa memiliki banyak jenis seragam beserta atribut dan aksesoris pelengkap lainnya. Hal ini tentu menuntut biaya pungutan cukup besar yang ditanggungkan kepada para wali siswa. Padahal banyaknya seragam beserta atribut/aksesorisnya itu tidak ada korelasinya terhadap esensial proses pendidikan. Justru menimbulkan eksklusivisme di dalam dunia pendidikan kita.

Gejala eksklusivisme di dalam sistem pendidikan kita semakin tampak jelas dengan berkembangnya pendidikan saat ini yang sarat akan kriteria, penolakan, serta pengabaian terhadap karakteristik dan keunikan setiap siswa peserta didik. Sekolah pun cenderung mengelompokkan dan mengkotak-kotak para siswa sesuai dengan kriteria tertentu yang sarat adanya diskriminatif. Apalagi ditambah dengan makin menjamurnya sekolah-sekolah bertaraf internasional. Ini tentu bertentangan dengan konstitusi kita yang menyebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Namun dengan adanya gejala eksklusivisme yang terjadi di sekolah dan dalam sistem pendidikan kita sekarang ini, jika terus dibiarkan akan menghambat terwujudnya pemerataan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara Indonesia.

Pada akhirnya segala bentuk pengkomersialisasian pendidikan dan mewabahnya gejala eksklusivitas dalam sekolah merupakan sebuah masalah krusial pendidikan yang harus segera dituntaskan. Untuk itu pemerintah perlu membuat kebijakan yang mampu mengakhiri segala bentuk praktik komersialisasi pendidikan yang semakin menjamur itu. Terkait masalah seragam, sebaiknya pemerintah mengeluarkan regulasi yang secara tegas mengatur tentang pengadaan seragam serta hal-hal yang terkait di dalamnya. Dan untuk pihak sekolah, sebaiknya seragam dibuat seperlunya saja. Artinya seragam tidak perlu banyak-banyak dan kelihatan mewah, namun bisa dibuat lebih sederhana dan terjangkau oleh semua kalangan. Tentu pihak sekolah juga harus melalui musyawarah terlebih dahulu dengan para wali siswa.