Senin, 31 Mei 2010

MENGGUGAT MAKNA “CINTA SEJATI” YANG TEREDUKSI : Bag. 1

Aku sangat kagum pada sebuah keluarga pemulung yang begitu harmonis dan penuh cinta. Aku melihat dan merasakan ada energi cinta sangat besar yang terpancar dari keluarga pemulung itu. Mereka tampak begitu kompak dan harmonis. Aku melihat ada pancaran kebahagiaan dari sorot mata mereka. Aku selalu mengamati mereka diam-diam, mereka tampak begitu bahagia dengan kondisi yang apa adanya. Sungguh sebuah keluarga yang luar biasa. Sang Ayah menarik gerobak, ibu beserta dua anaknya berada di atas gerobak yang bercampur barang-barang bekas. Aku benar-benar salut dengan keluarga pemulung itu. Tak nampak raut kesal ataupun penyesalan di wajah mereka karena harus menjadi pemulung. Justru aku melihat adanya senyum bahagia di raut wajah mereka. Benar-benar sebuah keluarga yang telah memahami dan menghayati apa itu cinta sejati.

Namun di sisi lain terkadang aku merasa amat prihatin melihat sahabat-sahabat generasi muda Indonesia yang sering kali salah mengartikan cinta. Aku melihat dengan mudah mereka katakan cinta, seperti mudahnya mereka nodai dan khianati makna suci dari cinta itu sendiri. Penulis sadari betul, kini adanya perkembangan ICT yang tanpa filter dan control yang kuat, telah mengakibatkan para sahabat-sahabat muda terjebak pada makna cinta yang penuh kepalsuan. Penulis merasa makna cinta kini telah tereduksi oleh berbagai hal. Telah tereduksi oleh globalisasi, teknologi, kapitalisme, dll. Cinta tak lagi seperti kisah Romeo & Juliet ataupun kisah cinta Ratna dan Galih yang terus abadi. Masihkah ada kini Cinta Sejati itu? 

Aku melihat kini makna cinta itu makin jauh dari makna cinta sejati yang suci dan tulus. Kini begitu mudah terucap kata cinta, tapi bukan dari ketulusan hati, melainkan nafsu sesaat. Inilah persepsi yang harus segera kita ubah. Karena cinta yang didasari ambisi nafsu dan syahwat semata hanya akan berakhir dengan penyesalan. Mereka yang mencintai dengan ambisi nafsu dan syahwat, sering kali merasa bahwa mereka berhak mencintai apapun, dan karena itu ia berhak memiliki sepenuhnya. Dengan kata lain segala yang ia cinta, maka harus menjadi miliknya. Karena merasa menjadi miliknya, maka yang dicinta harus tunduk di bawah kemauannya. Ini tentu bukan makna cinta yang sesungguhnya. 

Apalagi kini ada sebagian  sahabat-sahabat muda Indonesia yang memaknai cinta sebagai seks, mereka beranggapan cinta tak kan lengkap tanpa seks. Dan kini seks pun seakan menjadi bumbu-bumbu penyedap rasa dalam romantika percintaan. Subhanallah! Penulis pernah  mengamati dibeberapa lingkungan kampus dan kos-kos-an. Kenyataannya penulis melihat banyak para oknum mahasiswa yang berduaan  (lawan jenis) melakukan hal-hal tidak terpuji di tempat-tempat sepi, sekitar kampus. Ini tentu perlu kesadaran kita bersama, bahwa free sex itu merupakan perbuatan yang amat memalukan dan terkutuk. Dan kita patut melantangkan "Say No to Free Seks" !

Cinta sejati haruslah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai. Cinta sejati seharusnya membuat yang dicintai merasa dihargai, aman,damai, tentram dan selalu bahagia. Cinta sejati merupakan cinta yang mampu menggerakkan sang pecinta untuk mengharagai kekasihnya, memberikan perhatian, dan menerima apa adanya. Memaknai cinta seperti itu tentu akan membuat cinta itu lebih indah dan bermakna.

Bersambung…


Hujan, cepatlah berlalu...

HUJAN…

hujan senja ini mengingatkan ku pada kala itu,
12 tahun silam masa perjuangan,
perjuangan yang tak kan pernah sirna dari ingatan ku,
perjalanan panjang penuh cobaan,

Waktu itu,
di kala embun pagi masih membasahi kaki langit,
dinginnya pagi yang menusuk jiwa,
dengan kaki mungil, kukayuh kencang-kencang sepeda tua itu
sepeda tua yang selalu menemani ku ke sekolah,

Tak kan pernah terlupakan,
keringat asin yang bercucuran membasahi kening ku,
bekas keringat itu kan selalu melekat di seragam ku kala itu,
menjadi kenangan indah yang kan abadi dalam hidup ku,

masih terbayang-bayang dalam ingatan ku,
ingin rasanya berteriak menangis kala itu,
ketika petir bersahut-sahutan di atas kepala ku,
dinginnya hujan pun menyemarakkan kesengsaraan yang ku alami kala itu,

pada siang, ketika matahari berada di atas kepala ku,
aku hanya bisa pasrah kepada-Nya,
sengatan sang surya kala itu masih membekas di kulit ku,
kini menyatu dalam diri ku, menjadi bara semangat

mungkin hanya Tuhan yang tahu,
angin, hujan, petir, dan matahari pun jadi saksi bisu,
perjuangan panjang kala itu,
kini semua telah berlalu,

Tuhan benar-benar telah mengabulkan doa ku kala itu,
kini ku petik hasil manis dari perjuangan ku 12 tahun silam,
aku yakin Tuhan itu memang ada,
Dia Maha Besar,
percayalah,

Selasa, 25 Mei 2010

Revitalisasi Pendidikan Karakter di UNY

Pada peringatan Hardiknas tanggal 2 Mei yang lalu Mendiknas mengangkat sebuah tema besar yaitu “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa". Pemilihan tema ini memang cukup relevan dengan perkembangan dan perubahan aspirasi masyarakat yang sangat dinamis serta melihat terjadinya kemerosotan moral generasi bangsa pada zaman globalisasi ini. Menurut Mendiknas, itulah sebabnya kita sungguh menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter bangsa dalam arti luas. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Melihat pernyataan Mendiknas tersebut maka tampak jelas bahwa kebijakan pendidikan nasional ingin mencoba untuk mentasbihkan dan melaunching kembali gerakan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang jauh hari telah ditekankan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Di dalam Bab II Pasal 3 UU Sisdiknas juga dituliskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban bangsa yang tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat negatif, karakter negatif dan lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah. Peradaban yang lemah akan dengan mudah hancur ditelan waktu.

Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita. Untuk itu dunia pendidikan harus mampu menjadi motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter bangsa, sehingga anggota masyakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi NKRI dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama. Yang dimaksud karakter yaitu merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut yang terwujud di dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Jadi Pendidikan membangun karakter, mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Dalam mewujudkan pendidikan karakter, tidak dapat dilakukan tanpa penanaman nilai-nilai (Azyumardi Azra, 2002:175). Indonesia Heritage Foundation merumuskan nilai-nilai yang patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter antaralain : cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab, berdisiplinan, dan mandiri; mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun; mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama; percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta damai, dll.

Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas akan tetapi juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang bagaimana mungkin kita membangun karakter bangsa lewat pendidikan bila dalam dunia pendidikan banyak masalah dengan karakter yang dimaksudkan itu? Maka dalam hal inilah UNY sebagai perguruan tinggi yang mencetak para tenaga pendidik harus mampu menjadi ujungtombak bangsa yang ikut bertanggung jawab untuk menterjemahkan kebijakan itu. Terkait dengan itu, dan dalam menghadapi tantangan global yang berorientasi pada World Class University (WCU), UNY dalam Dies Natalis ke-46 tahun 2010 mengambil tema “Peran UNY dalam Pengembangan Pendidikan Karakter menuju WCU”.

Upaya mulia itu tentu perlu kita berikan apresiasi dan dukungan bersama seiring UNY yang mengharapkan lulusannya supaya menjadi pribadi-pribadi yang cendekia, mandiri dan bernurani (CeMaNi). Ini tentu sebuah langkah kemajuan besar dari sebuah kampus dimana nantinya dihasilkan para tenaga pendidik. Jika upaya UNY ini berhasil, tentu akan menimbulkan "brand" di mata masyarakat bahwa UNY merupakan basis cendekia-cendekia yang tidak hanya cerdas dan mandiri, namun juga berkarakter. Seperti kita ketahu bersama, pendidikan karakter tidak akan mungkin berhasil tanpa dukungan dari seluruh elemen bangsa. Dan khususnya di sekolah, pendidikan karakter akan berhasil tercapai ketika para pendidiknya pun berkarakter. Dari sinilah kita harapkan UNY sebagai kampus pencetak para tenaga pendidik, mampu mengasilkan para pendidik yang profesional dan berkarakter. Pada akhirnya semua ini tak akan berarti apa-apa ketika itu semua hanya berakhir sebagai sebuah "wacana". SEMOGA

Mari kita dukung bersama UNY menuju Worl Class University yang Berkarakter (Bernurani, Mandiri, Cendekia)