Jumat, 25 Juni 2010

KRIMINALITAS MENINGKAT, MASIHKAH "JOGJA BERHATI NYAMAN"?

oleh Cipta Cinta Damai - Google - Blogger

Maraknya kejahatan jalanan malam hari pada akhir-akhir ini di wilayah Yogyakarta menimbulkan keresahan warga. Belum lagi beredarnya pesan singkat berantai lewat SMS, lewat situs jejaring sosial facebook, hingga kaskus terkait maraknya kejahatan di wilayah Yogyakarta.

SMS dan informasi itu kurang lebih menyebutkan bahwa jalan-jalan yang perlu diwaspadai selepas pukul 21.00, di antaranya Jalan Magelang, Jalan Lingkar Utara di wilayah Depok sampai Jalan Solo, depan pertokoan Casa Grande, Maguwo, Condong Catur, Selokan Mataram, Jalan Kaliurang, dan jalan- jalan di utara Jalan Lingkar Utara.

Menurut informasi yang berkembang, dalam SMS tersebut disebutkan pula bahwa daerah-daerah yang umumnya sepi dan minim penerangan di malam hari itu sering terjadi penodongan dengan pistol, pembacokan, dan pencurian kendaraan bermotor. Pernah disebutkan pula, tujuh korban terjadi dalam semalam.

Dalam pengamatan penulis masih banyak sekali preman-preman yang berkeliaran di seputar wilayah kampus di kota Yogyakarta. Mereka kerapkali nongkrong di wilayah yang dianggap sepi dan jarang ada patrol. Penulis juga sering mendengar adanya kasus pencurian motor, helm, laptop, dsb di kawasan kos mahasiswa.
Terlepas dari maraknya kriminalitas di Yogyakarta akhir-akhir ini khususnya pada malam hari tentu sangat meresahkan berbagai pihak, mulai dari warga hingga mahasiswa. Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu pun menjadi was-was ketika tinggal di Yogyakarta yang katanya “BERHATI NYAMAN” itu. Mahasiswa yang sering kali dituntut oleh tugas-tugas kuliah hingga harus pulang larut malam, menjadi tidak berani dan dihantui oleh rasa takut.

Menurut analisa penulis, maraknya aksi kriminalitas di kota Yogyakarta akhir-akhir ini akan sangat berpengaruh terhadap “image” kota Yogyakarta di mata masyarakat. Pada akhirnya jargon Yogyakarta Berhati Nyaman” pun diragukan oleh berbagai pihak,khususnya masyarakat di luar kota Yogyakarta. Padahal belum lama ini pun “image” kota Pelajar ini telah mulai di pandang miring oleh kalangan umum karena maraknya pergaulan bebas di kota yang kental akan nilai-nilai filosofi jawa dan budaya luhur-nya itu.
Pada akhirnya menurut pandangan penulis, jika fenomena ini tidak dipahami secara kritis dan arif oleh berbagai pihak yang terkait, khususnya Pemerintah DIY, maka penulis khawatirkan ini akan mengakibatkan turunnya minat pelajar atau mahasiswa dari luar DIY untuk menuntut ilmu di kota Pelajar” ini. Bahkan dari pengamatan dan perbincangan penulis terhadab beberapa warga selama ini, mereka merasa sangat khawatir ketika akan melepaskan putra-putri-nya untuk sekolah atau kuliah di kota Yogyakarta. Mereka mengaku takut putra-putrinya terjerumus pada peergaulan bebas (free sex), hingga rusak moralnya.

Rekomendasi Penulis sbb:
Kepada pihak Kepolisian khususnya dalam hal ini, Kepolisisan wilayah DIY sebaiknya meningkatkan intensitas dalam berpatroli di kawasan-kawasan yang di-isu-kan tersebut. Disamping itu menurut penulis perlu ditingkatkan jumlah personil Intel Polisi di daerah kawasan kampus yang rawan kriminalitas. Pihak Kepolisian juga harus meningkatkan kesiagaan di daerah-daerah yang sepi dan kurang penerangan, khususnya di malam hari. Dan perlu adanya razia maupun penjaringan preman-preman secara rutin dan mendadak di titik-titik rawan tertentu.


Salam PEACE selalu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar