Jumat, 10 Agustus 2012

Wujudkan Cita-Cita Bangsa! (Renungan HUT RI Ke-67)

17 Agustus 2012 ini akan genap sudah 67 tahun Indonesia merdeka. Namun waktu yang demikian lama itu ternyata belum mampu mendewasakan bangsa ini. Terlalu banyak energy bangsa ini yang terbuang sia-sia hanya untuk saling menyalahkan, saling bermusuhan, saling fitnah, saling menjatuhkan dan sebagainya. 

Terkadang begitu mudahnya bangsa ini diadu domba oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab. Hingga terjadilah perang antar saudara sebangsa yang kerap tidak kita sadari. Sudah cukup banyak nyawa yang melayang sia-sia akibat pertikaian antar kelompok/etnis. Sungguh ironis dan memalukan sekali. 

Semestinya melalui peringatan HUT kemerdekaan ini mampu mengingatkan kita semua akan cita-cita para the founding fathers yang hingga kini belum tercapai sepenuhnya. Cita-cita the founding fathers tersebut dengan jelas tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Yang antara lain yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta turut menciptakan perdamaian dunia. 

Cita-cita the founding fathers tersebut kini menjadi cita-cita luhur bangsa Indonesia. Yang berarti merupakan tujuan nasional didirikannya negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk mewujudkannya memang tidak mudah. Terlebih akhir-akhir ini banyak ancaman yang terus menghantui bangsa Indonesia. Mulai dari terorisme, korupsi, radikalisme, kriminalitas, dan sebagainya. 

Namun kita semua harus tetap optimis, jangan sampai gentar dengan ancaman-ancaman itu. Apapun yang terjadi harus kita hadapi bersama . Dengan modal sosial yang bangsa ini miliki mari satukan tekad, bersama wujudkan cita-cita bangsa yang juga merupakan amanah dari the founding fathers kita. 

Seperti pesan Bung Karno, bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas. Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Namun merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa sebagai tujuan luhur kita bersama. Salam merdeka untuk kita semua. Sekali merdeka tetap merdeka!

"Mereka Istimewa" (Puisi untuk Sahabat ABK)


Mereka terasing diantara keramaian 
Mereka tertindas di alam kemerdekaan 
Mereka terpasung di lembah kebebasan 
Dan mereka tercabik dalam kefakiran 

“Dan siapakah mereka itu kawan?” 
Mereka saudara kita! 
Namun mereka memiliki keterbatasan 
Orang menyebutnya kecacatan 
Bahkan ada yang tega mengatakan itu kutukan 
Entahlah! 

Mereka sama seperti kita 
Butuh makan saat lapar 
Butuh minum saat dahaga 
Butuh oksigen untuk bernafas 
Karena sejatinya kita memang bersaudara! 

Yang terkadang terlupa oleh kita adalah 
Mereka butuh dihargai 
Mereka ingin diakui eksistensinya 
Sebagai manusia yang layak dan setara 

Coba renungkan kawan! 
Siapakah diantara kita yang mau terlahir cacat? 
Terhina dan terasingkan dari kehidupan manusia yang sok sempurna 
Padahal bukankah sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan? 
Kita pun sok jadi hakim yang bisa memutuskan dan menghakimi mereka 
Dengan kata diskriminasi 

Padahal diskriminasi adalah sebuah kata-kata terkutuk 
Ia bagai racun ular paling berbisa di dunia 
Diskriminasi adalah penindasan di alam kemerdekaan 
 Yang lebih kejam dari kemiskinan 

Yang mereka butuhkan adalah kesetaraan 
Bukan ejekan ataupun cemoohan 
Mereka butuh pemberdayaan 
Bukan belas kasihan ataupun ibaan


Don't Judge a book by cover

Maha Cinta, Menebar Kasih, Raih Kebahagiaan !

Wahai sahabat dan saudara pembaca sekalian, benarkah diantara kita sering menganggap remeh suatu ciptaan Tuhan YME yang ada di muka bumi ini? Contohnya saja menghina orang cacat atau mungkin juga sering menganggap “enteng” orang lain dan merasa dirinyalah yang paling hebat. Atau mungkin malah kita sendiri sering merasa minder diri tak berarti dan tak berguna. 

Jika kenyataannya demikian, maka segeralah kita merenung dan bertaubat kepada-Nya :) Coba kita resapi bersama kata-kata berikut: “Seandainya Sang Pemberi Kehidupan mencabut waktu kehidupan kita dan bertanya kepada kita, apakah kita sudah berani berdiri tegak dihadapan-Nya dengan mengatakan prestasi terbaik dan manfaat yang telah kita lakukan dengan menggunakan segala anugerah dari-Nya?”. “Apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan semuanya?” :)

Sadar atau tidak sesungguhnya hidup kita ini penuh dengan anugerah dan karunia-Nya. Sahabat dan saudara sekalian, tanpa diminta Tuhan telah memberikan karunia kepada kita semua berbagai anugerah yang teramat istimewa dalam kehidupan ini. Pernahkah sejenak kita berfikir, betapa berharganya berbagai anugerah istimewa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita semua. 

Segala anugerah dan karunia Tuhan kepada kita para hamba-Nya takkan ternilai harganya. Semua itu takkan bisa diukur dengan harta benda maupun nilai mata uang manapun. Sebab anugerah yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita semua sangat besar dan tak terbatas. Karena Dia-lah Zat Yang Maha Cinta. 

Mari sejenak kita refleksi diri dan merenungi atas kebesaran-Nya itu. Dia-lah Tuhan Yang Maha Cinta yang telah mengkaruniakan kepada kita semua berbagai anugerah yang tak ternilai harganya. Mulai dari fisik yang berfungsi dengan sempurna, otak yang kecerdasannya luar biasa, juga hati untuk merasa. Dia-lah Tuhan Zat Yang Maha Kasih, yang telah mengkaruniakan kepada kita semua mata untuk melihat, mulut untuk bicara, telinga untuk mendengar, kaki untuk berjalan dan menopang tubuh, serta anugerah istimewa lainnya. 

Bahkan untuk sekedar bernafas setiap detik hidup kita selalu menghirup oksigen yang Tuhan berikan secara cuma-cuma. Apa kita pernah ditagih oleh Tuhan untuk membayar semua itu? Tidak mungkin dan tidak akan pernah. Karena sesungguhnya Dia-lah zat Yang Maha Kaya dan zat Yang Yang Maha Pengasih. Sungguh amatlah tak terhingga segala anugerah dan karunia-Nya terhadap kita hamba-hamba-Nya. Nah dalam hal ini sudahkah kita bersyukur kepada-Nya? Atau minimal sudahkah kita menghargai berbagai karunia-Nya yang luar biasa itu? 

Tentu semua ini kembali lagi kepada pribadi masing-masing, hanya Anda sendiri yang mampu menemukan jawabannya. Karena sesungguhnya jawaban itu ada di dalam hati Anda masing-masing. Yang terpenting saat ini kita harus selalu ingat dan sadari bahwa hidup ini merupakan karunia Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Tuhan memberikan segala anugerah dan karunia-Nya yang amat istimewa kepada kita sekalian tentu tidak sembarangan. Pasti ada rahasia dan tujuan dibalik semua itu. Yang pasti kita harus mampu menggunakan segala anugerah dan karunia-Nya itu untuk tujuan yang mulia. 

Maka dari itu jangan pernah menyerah atas segala keadaan yang ada pada diri kita. Syukuri saja apa adanya, baik itu kekurangan maupun kelebihan yang ada pada diri kita. Ingatlah bahwa tidak ada yang sia-sia atas segala ciptaan-Nya. Selalu ada hikmah dan rahasia dibalik segala ciptaan-Nya itu. 

Dan jangan pula kita remehkan orang lain, apapun latar belakangnya dan siapapun itu. Bagaimanapun kondisinya harus tetap kita hargai, karena itu semua adalah ciptaan-Nya. Ketika diantara kita meremehkan atau menghina ataupun mencemooh orang lain yang dianggap lebih buruk dari kita, maka sesungguhnya secara tidak langsung kita sedang meremehkan, menghina dan mencemooh Sang Pencipta-nya. 

Ingat sahabat sekalian, bahwa setiap diri kita itu sama dihadapan Tuhan. Hanya saja derajat ketaqwaan kita-lah yang membedakannya. Iya nggak? :) 

Nah para pembaca sekalian, lebih baik jangan pernah remehkan segala anugerah dan karunia-Nya, baik itu yang ada pada diri kita maupun orang lain. Karena sesungguhnya hidup ini penuh dengan anugerah, nikmat dan karunia-Nya. Untuk itu, inilah saatnya kita bangkit bersama. Jangan ada lagi perasaan “rendah diri” ataupun perasaan minder yang berlebihan-lebihan, walaupun di samping itu juga jangan lantas menyombongkan diri. 

Jangan pernah pula kita remehkann orang lain. Bagaimanapun kondisinya harus tetap kita hargai. Mungkin itu bisa dibilang merupakan wujud sederhana atas rasa terimakasih atau syukur kita kepada Sang Pencipta. Namun sesungguhnya tidak cukup sampai di situ saja. Malu donk sama Tuhan, hehehe….. :) 

Kita sebaiknya harus mampu menggali berbagai keunikan dan kekuatan pribadi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Kita maksimalkan segala potensi diri kita yang merupakan anugerah dari Tuhan untuk menorehkan prestasi terbaik dalam kehidupan. 

Kita juga harus bisa memberikan manfaat positif bagi kemajuan kehidupan dengan menggunakan karunia dari-Nya untuk tujuan-tujuan mulia. Jangan segan-segan membantu dalam kebaikan dan berbagi kepada sesama. 

Mari buktikan kepada Tuhan Yang Maha Cinta, kita mampu menggunakan penglihatan, pendengaran, mulut, tangan, kaki, otak dan semua indera yang Dia titipkan kepada kita untuk tujuan-tujuan yang mulia. Kita bisa hidup di dunia ini karena cinta dan kasih-Nya. Kita hanyalah manusia biasa yang tak sempurna, bukan makhluk suci seperti malaikat. Maka salinglah menghormati, jangan mengumbar aib orang lain dan jangan meremehkan apapun itu.

Salah, Nekad & Bangga? Malu Donk !

Suatu ketika di sebuah sekolah “X” saya menjumpai sekelompok pelajar SMA yang rame-rame membolos saat jam mata pelajaran sedang berlangsung. Mereka justru enak-enakan nongkrong di depan warung kantin dan sekitar tempat rental game. Ada pula yang asyik menghisap rokok dengan santainya, seolah tidak menggubris gurunya yang sedang menerangkan di dalam ruangan kelas. 

Beberapa hari kemudian mereka ketahuan guru BP dan langsung dipanggil untuk ditegur. Namun hebatnya tak ada raut wajah penyesalan sedikitpun yang terpancar dari ekspresi para siswa itu. Bahkan nampak seperti ada kebanggaan tersendiri bagi mereka karena berhasil membolos. Salah kok bangga! 

Pada momen yang berbeda, saat sedang berkendara sepeda motor saya juga menjumpai kasus yang serupa, salah tapi bangga. Yakni kebiasaan oknum pengendara yang suka “sok-sokkan” menerabas lampu merah. Atau kebiasaan oknum pengendara sepeda motor yang suka “bergaya” nyalip sembarangan secara zig-zag kendaraan yang ada di depan/sampingnya tanpa memberikan kode. Kerap pula saya menjumpai kebiasaan para oknum sopir bus antar kota yang suka ngegas sambil mengepulkan asap knalpotnya yang hitam pekat saat merasa ada pengendara lain yang mencoba menyalipnya. Lagi-lagi, salah tapi bangga! 

Di sisi lain, mungkin Anda pernah menyaksikan di media beberapa oknum pejabat yang diketarai melakukan tindakan korupsi. Namun justru mereka tiap hari dikawal dan bergonta-ganti pengacara. Ada pula yang jelas-jelas terbukti melakukan tindakan korupsi namun tetap berkilah dengan sejuta alasannya. Bahkan memutarbalikkan fakta semaunya. Begitulah di negeri ini, banyak kaum elit yang salah tapi tidak pernah merasa bersalah dan tidak mau disalahkan. Malah dengan bangganya tiap hari nongol di media cetak dan TV. Biar eksis, kilahnya. Ah lagi-lagi salah tapi bangga! 

Fenomena “salah tapi bangga” kini semakin marak di negeri ini. Pelakunya pun mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga bahkan oknum pejabat. Sepertinya “salah” itu sesuatu yang wajar, dianggap sudah biasa, sepele, dst. Bahkan dicari-cari beribu alasan untuk menjadikan yang semestinya “salah” menjadi nampak benar. 

Seolah-olah “kebenaran” itu dianggap culun, bodoh, munafik, tak berdaya, dst. Demi mengokohkan sebuah semboyan, “biar salah tapi mesti bangga!”. 

Saya jadi berpikir, kalau kebiasaan berbuat salah menjadi budaya bangsa ini mau dibawa kemana negara kita? Bukankah bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan? 

Jangan biarkan bangsa ini dikuasai oleh budaya “preman” yang bangga akan kesalahannya! 

Mari budayakan bersikap malu dan ksatria manakala kita melakukan kesalahan. Jangan bangga kalau salah, banggalah kalau engkau dengan ksatria berani mengakui atas kesalahanmu!

Cinta itu Buta, Mengapa?

Hey guys, tahukah kalian kalau ternyata seseorang bisa jatuh cinta dalam kondisi dia tidak mengerti apa itu yang dimaksud dengan cinta. Bahkan terkadang dia tak sadar dengan apa yang ia rasakan saat itu. 

Itulah uniknya cinta. Terkadang sulit dinalar dengan logika. Hingga ada sebuah istilah yang menyebutkan bahwa “cinta itu bertindak dulu, baru berpikir”. Tak heran kalau biasanya orang yang sedang dimabuk cinta, kata-katanny justru tak sesuai dengan cinta itu sendiri. 

Misalkan saja “aku cinta padamu sampai mati”, “aku rela mati demi kamu”, dan seterusnya. Itulah cinta! Bertindak dulu berpikir kemudian. Tak heran banyak orang yang mengatakan kalau cinta itu buta. Yupz, love is blind. Buta di sini dalam artian orang seringkali jadi lupa diri hingga hilang arah oleh karena dimabuk cinta. Oh cinta lagi-lagi cinta :)

Guys, diantara kalian mungkin pernah ngeliat orang yang menjadi korban atas kebutaan cinta. Ada orang yang sampai sakit hingga bahkan gila gara-gara cintanya ditolak. Ada orang yang nekat bunuh diri gara-gara patah hati. Ada pula yang sampai tega melakukan tindakan tidak senonoh dengan orang yang dicintainya, lagi-lagi karena cinta buta. 

Bila cinta bisa memilih pasti ia lebih memilih menjadi penerang bagi setiap jiwa. Cinta tidak mau melahirkan kerugian dan bencana. 

Seperti ungkapan tokoh Hamka, tanahnyalah yang berlain-lainan menerima cinta. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah menjadi kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika cinta jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (Hamka). 

Guys, ayo sucikan hatimu agar tidak buta karena cinta! Gunakan selalu mata hati cinta agar cintamu jadi kisah yang terindah :)

Siap?

Belajar Kunci Sukses dari "Sumpah Karate"

Siapa bilang olah raga bela diri karate itu identik dengan yang namanya kekerasan. Terkesan seram dan menakutkan. Bahkan ada beberapa kalangan yang menyebutnya sebagai salah satu olahraga ekstrim dan mematikan. Pasalnya tidak sedikit orang yang mengalami cedera pasca pertandingan karate. Ketika digunakan untuk bela diri pun karate terbukti ampuh melumpuhkan lawan dalam sekejap meski tanpa senjata apapun. Dibalik keekstrimannya itu ternyata olahraga karate juga memiliki nilai-nilai filosofi kearifan untuk meraih kesuksesan. 

Karate merupakan seni bela diri yang berasal dari Jepang. Karate terdiri dari dua kanji, “Kara” berarti kosong dan “Te” berarti tangan. Yang bila digabungkan menjadi “tangan kosong”. Ya, karate adalah seni beladiri dengan tangan kosong. Di Indonesia sendiri karate ada yang aliran tradisional dan ada pula yang aliran olah raga. 

Latihan dasar dalam karate terbagi menjadi tiga, yaitu kihon, kata, dan kumite. Kihon merupakan latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis. Kata merupakan latihan jurus atau bunga karate. Kumite merupakan latihan tanding atau sparring. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Karate) 

 Di dalam seni bela diri karate ada yang namanya “Sumpah Karate”. Antara lain sebagai berikut (1) Sanggup memelihara kepribadian (2) Sanggup patuh pada kejujuran (3) Sanggup mempertinggi prestasi (4) Sanggup menjaga sopan santun (5) Sanggup menguasai diri. Kelima sumpah tersebut wajib dipegang teguh dan diamalkan oleh semua karateka atau anggota karate. 

Jika direnungkan dan benar-benar diamalkan dengan kesungguhan hati, ternyata “Sumpah Karate” mampu membawa seseorang meraih kesuksesan hidup. Faktanya, banyak sekali anggota karate dari aliran apapun itu yang menjadi orang sukses dan besar. Mulai dari menjadi anggota Polri, anggota TNI, pelatih, PNS, pengusaha hingga bahkan pejabat. 

Saya sendiri pernah belajar Karate INKAI dan kebetulan juga memiliki seorang teman yang cukup aktif menjadi pengurus di karate INKAI tingkat kampus. Terbukti saat kuliah dia menjadi salah satu lulusan terbaik tingkat fakultas dengan predikat camlaude. Sensai karate saya juga pernah berkisah tentang bagaimana beliau bisa diterima sebagai pegawai di sebuah bank ternama berkat sabuk hitamnya. Ada lagi beberapa teman yang berhasil keliling Indonesia hingga bahkan go internasional karena berhasil menjadi juara karate. 

Ini membuktikan bahwa walaupun nampak sebagai seni bela diri yang ekstrem dan menakutkan, namun karate memiliki nilai-nilai kearifan yang bisa mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Sumpah karate yang pertama mengajarkan tentang pentingnya menjaga integritas diri/kepribadian. Sumpah karate yang kedua mengajarkan tentang pentingnya kejujuran. Sumpah karate yang ketiga mengajarkan tentang semangat juang untuk terus berprestasi/berdaya. Sumpah karate yang keempat mengajarkan tentang pentingnya menjaga sopan santun/hidup bertata-krama. Sumpah karate yang kelima mengajarkan tentang pengendalian/penguasaan diri. 

Nah sekarang kita semua tahu kalau seni bela diri karate itu ternyata memiliki filosofi yang luar biasa bila diamalkan. Tidak sedikit orang-orang besar termasuk para pejabat di negeri ini yang juga merupakan anggota karate. Di dalam seni bela diri karate juga tidak memandang apakah orang itu besar kekar atau kurus chungkring. 

Semuanya berkesempatan sama-sama bisa meraih kemenangan, bisa menjadi sang juara, asalkan giat berlatih secara disiplin. Seni bela diri karate adalah simbol penempaan jiwa raga. Seseorang yang ingin sukses mesti melewati dahulu penempaan jiwa dan raga. Barulah orang tersebut akan mampu meraih sekaligus mempertahankan kesuksesannya itu dengan tetap rendah hati dan mawas diri.

Memaknai 67 Tahun HUT Kemerdekaan RI

Pada setiap menjelang tanggal 17 Agustus masyarakat tiba-tiba disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia. HUT kemerdekaan RI rutin diperingati setiap tahun dengan cukup meriah. Hampir seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai golongan turut berpartisipasi aktif dalam memeriahkan HUT kemerdekaan RI tersebut. 

Namun ironisnya selama ini masyarakat Indonesia justru terlalu larut dalam euphoria kemeriahan perayaan HUT kemerdekaan semata. Sehingga peringatan HUT kemerdekaan RI selama ini terkesan masih seremonial belaka. 

 Pada setiap peringatan HUT kemerdekaan RI sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar luapan kemeriahan. Yaitu bagaimana bangsa Indonesia mampu merefleksikan akan makna dari kemerdekaan itu sendiri. Termasuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmat-Nya lah bangsa ini bisa merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, walau harus ditebus dengan darah para syuhada atau pahlawan yang gugur dalam medan perang. 

Kini kita sudah merdeka, namun kemerdekaan bukan berarti akhir dari perjuangan bangsa ini. Seperti ungkapan Bung Karno the founding fathers, kemerdekaan adalah jembatan emas. Kemerdekaan Indonesia merupakan jalan untuk mencapai suatu tujuan yang luhur. 

Makna dari merdeka sejatinya merupakan persoalan pribadi/personal sebelum menjadi persoalan bangsa. Belumlah merdeka sebuah Negara yang individu masyarakatnya saja masih merasakan adanya penjajahan-penjajahan dan penindasan-penindasan model baru seperti sekarang ini. Maka dari itu sesungguhnya merdeka adalah pertarungan jati diri personal/individu sebelum menjadi perjuangan entitas sebuah bangsa. 

Makna merdeka bagi individu/personal masyarakat pun harus kita luruskan kembali, yang mana selama ini seringkali disalahartikan. Individu masyarakat sering memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya, hingga yang terjadi justru kebablasan. 

 Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan sejati akan tercapai ketika para individu manusianya sudah bisa mengekang diri dari perilaku yang bisa melanggar atau mencederai kemerdekaan dan hak azasi orang lain. Kemerdekaan sejati mensyaratkan adanya hukum, peraturan, serta norma-norma yang harus kita taati bersama untuk tetap menjaga kekokohan kemerdekaan itu sendiri. Manakala setiap individu telah berlomba-lomba melanggar hukum, peraturan, serta norma-norma yang telah disepakati bersama; maka sejak itulah kemerdekaan yang ada akan dengan mudah diruntuhkan kembali. 

Tahun 2012 ini, genap 67 tahun sudah usia kemerdekaan NKRI. Itu artinya sudah banyak gemblengan-gemblengan dan proses pendewasaan yang dialami bangsa ini. Masih begitu banyak dan komplek masalah, ancaman serta tantangan yang harus dihadapi bangsa ini kedepan. Mulai dari kemiskinan, korupsi, terorisme, maraknya kriminalitas, masalah moralitas dan sebagainya. 

Memang tidak mudah menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang semakin ruwet itu. Tentu kita tidak bisa banyak berharap kepada Pemerintah. Mestinya bangsa ini segera bangkit, singkirkan segala ego dan bergerak bersama untuk tuntaskan berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung usai secara bijak. 

Mungkin saja negara ini belum membuat kita merasa nyaman tinggal di dalamnya. Jangan pusingkan dulu soal maraknya korupsi, masalah moral bangsa, masalah kemiskinan, masalah pengangguran, ataupun pendidikan yang tak kunjung usai. Bagaimanapun kondisinya ini tetaplah tanah air kita tercinta. 

Jangan sia-siakan waktu luang yang bangsa ini miliki hanya untuk saling adu jotos, saling curiga, atau hal-hal tidak penting lainnya. Sekarang coba kita pikirkan apa karya atau prestasi yang bisa kita persembahkan untuk bangsa dan negara ini. Saatnya kita mengisi kemerdekaan yang telah diraih para pahlawan bangsa dengan terus produktif berkarya dan tulus mengabdi untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

DIRGAHAYU NKRI, JAYALAH TERUS INDONESIA!