Selasa, 06 Juli 2010

MENIMBANG EFEKTIFITAS PENDIDIKAN MORAL

Selama ini pendidikan moral memang telah dilakukan di sekolah sejak pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tinggi di kampus Pendidikan moral tersebut diajarkan kepada peserta didik melalui mata pelajaran PKn dan Pendidikan Agama (di sekolah) dan melalui mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Moral, dsb (di kampus). Namun saat ini kita semua bisa melihat betapa korupsi masih menjamur di berbagai lembaga dan bahkan institusi Negara, virus pornografi terus menjangkit generasi bangsa, kasus kriminalitas terjadi di mana-mana, kekerasan dan anarkisme-pun semakin mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Ini jelas-jelas sebuah “pertanda” bahwa pendidikan moral yang ada di sekolah maupun kampus selama ini masih “gagal” menjadikan peserta didik sebagai “manusia yang bermoral”. Pada akhirnya kita pun patut mempertanyakan “Seberapa efektifkah pendidikan moral di sekolah dan kampus?”

Penulis mengutip pendapat Marvin Berkowitz (1998) yang mengatakan bahwa kebanyakan pendidikan moral yang dilakukan di sekolah-sekolah tidak pernah memperhatikan bagaimana pendidikan itu dapat berdampak terhadap perubahan perilaku. Contoh konkritnya yang paling relevan terhadap hal ini adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini menjadi PKn yang sudah puluhan tahun diajarkan di Sekolah maupun Kampus. Namun kenyataannya sampai saat ini adakah bukti nyata atau korelasi yang signifikan antara Pendidikan//Pembelajaran Moral terhadap terwujudnya bangsa Indonesia sebagai insane yang bermoral? Ironis sekali, fakta di lapangan selama ini justu menunjukkan hal yang sebaliknya.

Jika kita amati dan analisa, sepertinya masih ada semacam kesenjangan dalam pelaksanaan pendidikan moral selama ini. Kesenjangan itu terjadi antara pengetahuan moral ( cognition) dan perilaku (action). Salah satu solusi untuk mengefektifkan pendidikan moral yang memang sudah ada selama ini yaitu melalui pendidikan karakter. Karena pendidikan moral selama ini hanya menyentuh aspek “pengetahuan”, belum sampai pada aspek pengamalan atau “perilaku”.

Menurut penulis jika negara ini benar-benar menghendaki generasi dan bangsa yang bermoral, maka pendidikan karakter merupakan sebuah keharusan. Jika Pemerintah tetap mengandalkan Pendidikan Moral untuk membangun akhlak bangsa terutama generasi muda, maka upaya tersebut tidak akan efektif. Seperti yang terjadi selama ini, penulis belum melihat dampak nyata yang empirik dari Pendidikan Moral baik itu di sekolah maupun kampus. Untuk itu penulis menghimbau kepada Pemerintah agar Pendidikan Karakter menjadi perhatian serius Pemerintah. Jangan sampai Pendidikan Karakter berakhir sekedar "wacana" yang terus menjadi perdebatan dari masa ke masa.

Pendidikan Moral yang ada selama ini dan Pendidikan Karakter memang tidak jauh berbeda. Hanya saja Pendidikan Karakter yang menjadi topik bahasan akhir-akhir ini lebih luas cakupannya. Karena tidak hanya menekankan pada pemahaman konsep semata, akan tetapi juga pada penghayatan dan pengamalan dalam tingkah-laku sehari-hari. Pendidikan Moral saat ini memang masih sangat dibutuhkan di sekolah maupun kampus. Akan tetapi upaya tersebut tidak akan efektif tanpa didukung dengan Pendidikan Karakter.

MENYUSURI JEJAK SEJARAH "KAWASAN KOTA TUA"



Jakarta sebagai kota metropolitan yang sarat akan modernitas dan kemacetan-nya itu ternyata masih memiliki kawasan unik yang menyimpan nilai sejarah tinggi bagi bangsa Indonesia. Kawasan unik nan bersejarah itu bernama kawasan Kota Tua. Letaknya di jalan Fatahillah, Jakarta Utara. Sekitar 4 hingga 5 kilometer dari Tugu Monumen Nasional.

Menurut data sejarah, kawasan kota tua ini merupakan hasil rancangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Peiterzoon Coen tahun 1628 yang ingin membangun Amsterdam di Batavia. Batavia adalah sebutan awal bagi Jakarta waktu itu. Ketika berada di kawasan Kota Tua ini, seakan kita diajak melihat kembali perjalanan sejarah kota Jakarta. Di kawasan Kota Tua terdapat beberapa bangunan kuno yang unik dengan rancangan arsitektur bergaya Eropa.

Keindahan Kota Tua tidak hanya terasa dari sisi luarnya saja. Tetapi juga dari beberapa bangunannya yang hingga saat ini masih berdiri tegak dan masih layak untuk digunakan. Salah satunya, Museum Sejarah Jakarta atau yang seringkali disebut Museum Fatahillah. Luasnya sekitar 13 ribu meter persegi. Bangunan ini didirikan atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johan Van Hoorn sekitar tahun 1707 hingga 1710. Konon, peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan tanggal 25 Januari 1707 semasa pemerintahan Van Hoorn. Kemudian, pelaksanaan pembangunan diteruskan di bawah pemerintahan Gubernur Jendral Abraham van Riebeeck hingga diresmikan tahun 1710. Awalnya, konon bangunan ini digunakan sebagai balai kota, kantor Penasehat Gubernur Jendral, dan Ruang Pengadilan.

Namun sejak, 30 Maret 1974 gedung ini berubah fungsi dan dipugar. Kemudian, diresmikan sebagai museum Fatahillah oleh Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta waktu itu, Bapak Ali Sadikin. Sebagai saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia, di museum ini terdapat bekas penjara bawah tanah yang pernah digunakan ketika Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Tidak hanya itu, museum ini juga menyimpan beberapa koleksi yang tentunya menjadi barang berharga bagi Indonesia. Seperti keramik, gerabah, batu prasasti serta mebel antik yang dibuat sekitar abad ke-17 Masehi. Bukan hal yang aneh jika museum ini seringkali dikunjungi oleh beberapa wisatawan baik domestik maupun mancanegara.


Menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta, akan membuat kita merasakan pesona Jakarta di masa lampau. Itulah sebabnya, mengapa kawasan ini seringkali disebut dengan Jakarta Tempo Dulu. Dari pengamatan penulis saat bermain ke Kawasan Kota Tua, nampak banyak sekali para pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri. Apalagi pada malam minggu, di sekitar kawasan Kota Tua selalu dipadati pengunjung baik para kawula muda maupun orang tua. Penulis juga melihat banyak sekali para pecinta sepeda yang sering berkumpul di sana. Di kawasan bersejarah tersebut juga terdapat ojek "sepeda onthel" yang bisa kita sewa sembari menikmati museum-museum di kawasan Kota Tua. Jika perut mulai terasa lapar, kita pun disuguhi berbagai jajanan yang ada di sana. So, jika Anda tertarik mencobanya, silahkan kunjungi  Kawasan Kota Tua di Jakarta.